PLN Butuh Investasi Rp3.000 Triliun untuk Transisi Energi
PLN Butuh Rp3.000 T!
TANGERANG, Matanews— Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengungkapkan kebutuhan investasi sektor ketenagalistrikan dalam 10 tahun mendatang mencapai angka fantastis Rp 3.000 triliun. Dana jumbo ini diperlukan untuk menopang agenda transisi energi nasional, memperluas akses listrik, dan menjaga daya saing ekonomi di tengah perubahan global.
Pengumuman tersebut ia sampaikan dalam PLN CEO Forum di ICE BSD pada Rabu (26 November 2025). “Kami membutuhkan investasi sekitar Rp 3.000 triliun selama 10 tahun. Untuk itu, kita perlu membangun ekosistem yang kondusif untuk berinvestasi,” ujarnya.

Transisi Energi Tak Sekadar Menambah Pembangkit
Darmawan menegaskan bahwa transformasi ini bukan hanya soal menaikkan kapasitas pembangkit listrik. PLN harus memastikan bahwa sistem energi nasional memiliki daya dorong kuat terhadap pertumbuhan ekonomi.
Menurut dia, energi yang terjangkau (affordable) adalah kunci membuka pintu investasi baru. “Affordable energy akan menciptakan peluang usaha, membuka lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, mengatasi kelaparan, dan memeratakan ekonomi,” kata Darmawan.
Ia menyebut beban tanggung jawab PLN semakin besar karena listrik telah menjadi fondasi pertumbuhan industri. “Ini tugas berat. How are we going to be able to provide affordable energy? Karena dari energi terjangkau itu, investasi baru akan tumbuh,” tuturnya.
Menjaga Daya Saing Nasional
Di tengah persaingan global yang kian ketat, PLN menargetkan pembenahan sistem kelistrikan tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan industri dan masyarakat. Lebih dari itu, PLN harus memastikan biaya energi tidak membebani perkembangan ekonomi.
Ekosistem investasi, kata Darmawan, harus disusun agar pembangunan infrastruktur kelistrikan dapat berjalan cepat, efisien, dan stabil. Dukungan pemerintah menjadi faktor penting untuk mengamankan pendanaan jangka panjang.
EBT dan Nuklir Dominasi RUPTL Baru
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru, PLN mencatat bahwa 76 persen tambahan pembangkit selama 10 tahun ke depan berasal dari energi baru terbarukan (EBT) dan nuklir. Langkah ini menjadi fondasi percepatan transisi energi dan dekarbonisasi.
Kebijakan tersebut selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, yang menuntut keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan.
“Kami juga ditugaskan menurunkan emisi gas rumah kaca. Tiga bulan lalu, muncul RUPTL baru: 76 persen pembangkit tambahan berbasis EBT dan nuklir,” ujar Darmawan.
Kolaborasi Nasional dan Global Diperlukan
Darmawan menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk peran Danantara, induk holding energi nasional yang disebut siap mendukung penuh agenda besar PLN.
Transisi energi, menurutnya, tidak mungkin berjalan tanpa dukungan pendanaan internasional serta akses teknologi terbaru. Hal ini mencakup pembangkit surya, tenaga angin, penyimpanan energi, jaringan cerdas, hingga teknologi nuklir generasi baru.
“Saya tidak khawatir karena CEO Danantara siap mendukung. Pemerintah pun siap membangun ekosistem agar semua lebih produktif dan bisa bekerja bersama,” kata Darmawan menutup paparannya.(zee)





