Hujan Lebat Mengguyur, Kabupaten Bekasi Dikepung Banjir
Banjir Kepung Bekasi
BEKASI, Matanews — Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, sejak Sabtu (17/1/2026), memicu banjir meluas di sejumlah wilayah. Air sungai yang tak lagi mampu menampung debit hujan meluap ke permukiman warga, merendam ribuan rumah dan memaksa sebagian warga mengungsi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mencatat banjir terjadi di 16 kecamatan dan 40 desa, dengan total 4.622 kepala keluarga (KK) terdampak. Ketinggian air bervariasi, mulai dari 20 sentimeter hingga mencapai 200 sentimeter di titik-titik terparah.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi, mengatakan hujan turun dengan intensitas tinggi dan durasi yang cukup lama, baik di wilayah hulu maupun hilir sungai. Kondisi ini menyebabkan sejumlah sungai besar dan anak sungai meluap secara bersamaan.
“Intensitas hujan sangat tinggi dan terjadi cukup lama, berimbas pada meluapnya Kali Gabus, Sungai Cibeet, Sungai Citarum, Kali Sadang, dan Kali Ciherang,” ujar Dodi di Cikarang, Minggu (18/1/2026).
Menurut Dodi, buruknya sistem drainase di sejumlah kawasan permukiman turut memperparah genangan. Air hujan yang tidak tertampung dengan baik akhirnya mengalir dan menggenangi rumah warga, jalan lingkungan, hingga fasilitas umum.

Babelan dan Cabangbungin Paling Parah
Di Kecamatan Babelan, banjir merendam Desa Buni Bakti yang mencakup enam dusun. Luapan Kali Rawa Gabus dan saluran irigasi DT8 menyebabkan lebih dari 1.000 KK terdampak, dengan ketinggian air berkisar 30 hingga 40 sentimeter. Sejumlah warga terpaksa mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat dan lokasi yang lebih tinggi.
Sementara itu, Kecamatan Cabangbungin menjadi salah satu wilayah dengan jumlah korban terdampak terbesar. Luapan Kali Ciherang menggenangi Kampung Cabang Dua, khususnya di RT 07 hingga RT 18. BPBD mencatat sedikitnya 1.213 KK terdampak, dengan ketinggian air mencapai 50 sentimeter.
Air Dua Meter, Evakuasi Pakai Perahu
Banjir dengan ketinggian ekstrem terjadi di Desa Karang Raharja, Kecamatan Cikarang Utara. Di wilayah ini, air dilaporkan mencapai 200 sentimeter, memaksa tim gabungan dari BPBD, PMI, dan Brimob melakukan evakuasi warga menggunakan perahu karet.
“Untuk wilayah dengan ketinggian air di atas satu meter, evakuasi menjadi prioritas utama. Kami kerahkan personel dan peralatan, termasuk perahu dan kendaraan operasional,” kata Dodi.
Sejumlah kawasan perumahan padat penduduk juga ikut terendam. Di Tambun Utara dan Tambun Selatan, banjir menggenangi perumahan Papan Mas, Graha Prima, Setia Mekar Jatimulya serta Pusaka Rakyat, dengan ketinggian air mencapai 60 hingga 110 sentimeter.
Di Cikarang Barat banjir merendam kawasan Telaga Asih, meliputi Komplek Depsos, Rawa Citra, Babakan, dan Kampung Bedeng. Ketinggian air di wilayah ini berkisar 25 hingga 50 sentimeter, membuat aktivitas warga lumpuh dan sejumlah akses jalan terputus.
BPBD juga mencatat genangan masih terjadi di Kelurahan Wanasari, termasuk Perum Kartika, Villa Mutiara Jaya, Regency 2, Citra Villa hingga kawasan Tridaya dan Trias. Proses pendataan dampak masih terus berlangsung.

Sawah dan Kolam Ikan Ikut Terendam
Selain permukiman, banjir juga berdampak signifikan terhadap sektor pertanian. Di Kecamatan Pasir Tanjung, luapan Kali Cibeet merendam sekitar 45 hektare lahan padi, 7,2 hektare kolam ikan, serta 1,5 hektare tanaman hortikultura lainnya.
Di beberapa lokasi, warga memilih mengungsi demi keselamatan. Di Jati Baru, Kecamatan Cikarang Timur, tercatat 10 KK mengungsi akibat luapan Kali Sadang yang merendam rumah warga hingga 80 sentimeter.
“Sebagian warga memilih mengungsi mandiri. Namun di lokasi dengan risiko tinggi, kami tetap melakukan evakuasi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” ungkap Dodi.
BPBD Siaga Penuh, Warga Diminta Waspada
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis, memastikan seluruh unsur terkait terus disiagakan. Petugas melakukan pemantauan debit air sungai, pendataan korban terdampak, serta pendistribusian bantuan logistik di wilayah yang membutuhkan.
“Kami berkoordinasi dengan kecamatan, desa, TNI-Polri, PMI, serta relawan kebencanaan. Fokus utama kami adalah keselamatan warga dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak,” kata Muchlis.
Ia mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di bantaran sungai dan wilayah rawan banjir, untuk tetap waspada terhadap potensi hujan susulan.
“Cuaca masih cukup dinamis. Kami minta warga tetap siaga, mengikuti arahan petugas di lapangan, dan segera melapor jika terjadi peningkatan debit air,” pungkasnya.






