Sawah Terendam Banjir, Petani Cilincing Terancam Gagal Panen

Belasan hektare sawah di Kelurahan Rorotan dan Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, terendam banjir.

Sawah Terendam, Petani Jakarta Utara Menjerit

JAKARTA, Matanews – Belasan hektare sawah di Kelurahan Rorotan dan Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, terendam banjir. Genangan air setinggi 60 sentimeter hingga lebih dari satu meter merusak tanaman padi dan membuat petani terancam gagal panen.

Salah satu petani, Narsih, mengatakan banjir mulai merendam sawah sejak hujan deras mengguyur wilayah Jakarta dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir. Air tidak hanya menggenangi lahan, tetapi juga menutup hampir seluruh tanaman padi yang sebagian telah memasuki masa panen.

“Ya, begini, banjir. Ini segini,” kata Narsih sambil mengangkat tangan setinggi dada. “Kelelep sawah terendam soalnya, satu meter lebih,” ujarnya saat ditemui di Jakarta Utara, Rabu.

Menurut Narsih, kondisi tersebut membuat proses panen menjadi jauh lebih sulit. Petani terpaksa turun langsung ke dalam genangan air untuk mengambil padi, sesuatu yang jarang mereka lakukan saat musim kemarau atau cuaca normal.

“Sulit sekali. Enakan lagi kering. Kalau sekarang banjir begini, ambil padinya harus masuk dulu ke dalam air,” kata dia.

Sawah
Belasan hektare sawah di Kelurahan Rorotan dan Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, terendam banjir.

Tak hanya menyulitkan proses panen, genangan yang bertahan lama juga menyebabkan kualitas padi menurun. Sebagian besar tanaman rusak akibat terlalu lama terendam air, sehingga hasil panen terancam tidak bisa dijual atau nilainya merosot tajam.

“Rusak. Keadaan petani sekarang lagi anjlok,” ucap Narsih.

Ia menjelaskan, hujan dengan intensitas tinggi menjadi penyebab utama banjir. Meski di sekitar sawah terdapat saluran air atau irigasi, kapasitasnya tidak mampu menampung volume air yang datang dari daratan.

“Saluran air ada, tapi hujannya banyak dan deras dari darat, jadi pembuangannya nggak nampung,” ujar Narsih.

Dampak banjir, kata dia, tidak hanya dirasakan oleh satu atau dua petani. Area sawah yang terdampak cukup luas dan hampir seluruh tanaman padi di kawasan tersebut mengalami kerusakan.

“Banyak yang terdampak, tanaman padi jadi pada rusak,” katanya.

Para petani berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah dan instansi terkait, terutama untuk memperbaiki sistem drainase dan irigasi agar banjir tidak terus berulang dan merugikan petani, khususnya di wilayah pesisir Jakarta Utara.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengimbau warga yang bermukim di kawasan pesisir Pantai Utara Jakarta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir pesisir atau rob hingga 3 Februari 2026.

“Warga yang bermukim di kawasan pesisir pantai utara Jakarta diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir pesisir atau rob yang diperkirakan terjadi pada 27 Januari hingga 3 Februari 2026,” kata Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji, di Jakarta, Rabu.(28/1/2026).

Peringatan tersebut dikeluarkan menyusul potensi pasang maksimum air laut. Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Maritim Tanjung Priok, pasang maksimum dipicu oleh fase bulan purnama yang bertepatan dengan kondisi perigee, yakni saat bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tinggi muka air laut dan memicu banjir rob di sejumlah wilayah pesisir utara Jakarta. Isnawa menyebutkan puncak pasang maksimum diperkirakan terjadi pada pukul 05.00 hingga 11.00 WIB.(Int)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *