Sungai Batang Toru Tersumbat Kayu, 3,3 Km Tumpukan Picu Banjir Desa

Menurut Gus Irawan, penumpukan kayu tidak hanya terjadi di satu lokasi,

Batang Kayu Raksasa Sumbat Sungai, Desa Kebanjiran

SIPIROK, Matanews – Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel) Gus Irawan Pasaribu menyebut penanganan tumpukan kayu berukuran besar yang menyumbat aliran Sungai Batang Toru membutuhkan alat berat amfibi. Kayu-kayu tersebut menumpuk di bagian hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru akibat bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah itu.

“Kalau dihitung, tumpukan kayu yang ada di hilir sana panjangnya mencapai 3,3 kilometer, dan akibatnya masih ada beberapa desa kami yang kebanjiran,” kata Gus Irawan di Sipirok, Jumat (30/1/2026).

Ia menjelaskan, aliran Sungai Batang Toru yang seharusnya mengalir ke wilayah lebih rendah saat ini tertahan oleh tumpukan batang kayu berukuran besar. Kondisi itu membuat air sungai meluap dan masuk ke permukiman warga di sejumlah desa sekitar bantaran sungai.

batang
Menurut Gus Irawan, penumpukan kayu tidak hanya terjadi di satu lokasi,

Menurut Gus Irawan, penumpukan kayu tidak hanya terjadi di satu lokasi, melainkan di tiga titik berbeda di hilir Sungai Batang Toru. Lokasi tersebut berada tidak jauh dari batas wilayah Mandailing Natal.

“Tumpukan kayu ini sudah agak dekat ke batas Mandailing, dan di hilir sungai Batang Toru ada tiga titik penumpukan yang menutup aliran air,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, kata dia, telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait, mulai dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA), Balai Besar Wilayah Sungai, hingga badan usaha milik negara (BUMN), untuk mencari solusi penanganan kayu-kayu yang menutup aliran sungai tersebut.

Namun, Gus Irawan menegaskan, kondisi medan dan besarnya ukuran kayu membuat penanganan manual hampir mustahil dilakukan. Oleh karena itu, alat berat amfibi dinilai menjadi satu-satunya pilihan untuk mengangkut dan menyingkirkan kayu-kayu dari badan sungai.

“Tidak ada cara lain, kecuali dengan mendatangkan alat berat amfibi. Kami berharap ini segera ditangani agar banjir di desa-desa bisa cepat surut,” ucapnya.

Selain persoalan sungai, Gus Irawan juga menyoroti kebutuhan infrastruktur jembatan permanen di atas Sungai Garoga yang menghubungkan Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Kota Sibolga. Jembatan tersebut dinilai sangat vital untuk distribusi barang dan mobilisasi masyarakat.

“Saat ini memang sudah dibangun dua Jembatan Bailey, tetapi sifatnya sementara. Ada batasan tonase, hanya truk di bawah 25 ton yang boleh melintas,” kata Gus Irawan, Kamis (29/1/2026).

Ia mengungkapkan telah melaporkan kebutuhan pembangunan jembatan permanen tersebut kepada Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera yang juga Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian.

Menurut Gus Irawan, jembatan permanen yang mampu menahan beban di atas 30 ton sangat dibutuhkan, terutama untuk mendukung distribusi gas bersubsidi dan non-subsidi ke wilayah Tapanuli Selatan. Selama ini, gas didistribusikan dari Kota Padang menggunakan kapal menuju Pelabuhan Sibolga setelah singgah di Nias, sebelum diangkut melalui jalur darat ke Tapanuli Selatan.

“Pengangkutan gas hanya bisa dilakukan satu kali dalam seminggu, sementara kebutuhannya jauh lebih besar. Kalau jembatan permanen sudah ada dan bisa dilewati truk di atas 30 ton, distribusi gas tentu akan jauh lebih lancar,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah pusat dapat segera merespons kebutuhan tersebut agar pemulihan pascabencana, kelancaran distribusi logistik, serta aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah Tapanuli Selatan dapat kembali berjalan normal.[Int]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *