Cabai Rawit Merah Tembus Rp64 Ribu per Kilogram
Cabai Pedas, Harga Ikut Panas
JAKARTA, Matanews – Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) yang dikelola Bank Indonesia mencatat harga sejumlah komoditas pangan strategis masih bergerak fluktuatif di tingkat pedagang eceran. Pada Selasa pagi, harga cabai rawit merah tercatat berada di level Rp64.150 per kilogram, sementara telur ayam ras dijual seharga Rp31.450 per kilogram.
Data PIHPS yang dirilis pada pukul 07.33 WIB menunjukkan bahwa cabai rawit merah masih menjadi salah satu komoditas dengan harga relatif tinggi. Kondisi tersebut kerap dipengaruhi faktor cuaca, distribusi, serta pasokan dari sentra produksi ke wilayah konsumen.

Selain cabai rawit merah, harga cabai jenis lain juga terpantau bervariasi. Cabai merah besar dijual Rp39.800 per kilogram, cabai merah keriting Rp41.050 per kilogram, dan cabai rawit hijau berada di level Rp52.200 per kilogram.
Untuk komoditas bawang, PIHPS mencatat harga bawang merah di tingkat eceran nasional berada di Rp43.200 per kilogram, sedangkan bawang putih dijual Rp40.400 per kilogram. Harga tersebut mencerminkan kondisi pasokan yang relatif stabil, meski masih sensitif terhadap gangguan distribusi antarwilayah.
Di sektor beras, harga beras kualitas bawah I dan II masing-masing tercatat Rp14.400 per kilogram. Beras kualitas medium I dipasarkan Rp15.950 per kilogram dan medium II Rp15.750 per kilogram. Sementara itu, beras kualitas super I berada di harga Rp17.150 per kilogram dan super II Rp16.700 per kilogram.
Harga protein hewani juga tercatat beragam. Daging ayam ras dijual Rp40.300 per kilogram. Adapun daging sapi kualitas I mencapai Rp143.050 per kilogram, sementara kualitas II berada di level Rp135.250 per kilogram.
Untuk komoditas pangan olahan, harga gula pasir premium tercatat Rp19.800 per kilogram dan gula pasir lokal Rp18.350 per kilogram. Minyak goreng curah dijual Rp18.850 per liter, minyak goreng kemasan bermerek I Rp22.600 per liter, dan bermerek II Rp21.500 per liter.
PIHPS menjadi salah satu rujukan utama pemerintah dan masyarakat dalam memantau pergerakan harga pangan secara nasional. Data ini diharapkan dapat membantu menjaga transparansi harga serta menjadi dasar pengambilan kebijakan stabilisasi pangan, terutama menjelang periode konsumsi tinggi.[Int]





