Sebab Kecil Tragedi Bocah 10 Tahun di NTT yang Mengguncang Nurani Bangsa

SEBAB KECIL, AKHIR HIDUP SEKOLAHAN!

NTT, Matanews– Permintaan yang bagi sebagian orang tampak remeh Sebuah buku tulis dan pulpen menjadi titik akhir hidup seorang bocah sekolah dasar di pelosok Nusa Tenggara Timur. YBR, 10 tahun, siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di sebuah pohon cengkih, (4/2/26).

Kematian YBR bukan hanya tragedi keluarga, tetapi juga potret buram ketimpangan sosial yang masih menganga di wilayah-wilayah terluar Indonesia. Di negeri yang mengklaim wajib belajar dan pendidikan gratis, seorang anak justru kehilangan nyawa karena tak sanggup membeli alat tulis.
Kecil

Malam sebelum peristiwa itu, YBR menginap di rumah ibunya di desa tetangga. Ia meminta dibelikan buku tulis dan pulpen untuk sekolah. Sang ibu, yang membesarkan lima anak seorang diri setelah berpisah dari suaminya, tak mampu memenuhi permintaan itu.

Penolakan bukan karena abai, melainkan karena perut yang juga harus diisi. Pagi harinya, YBR pulang ke rumah neneknya. Tak ada yang menyangka, itulah hari terakhir ia melihat dunia.

Beberapa jam kemudian, warga menemukan tubuh kecil itu tergantung di pohon cengkih di kebun keluarga. Suasana desa mendadak senyap. Jerit dan tangis pecah ketika jasadnya diturunkan.

Polisi menemukan secarik surat tulisan tangan milik korban. Isinya singkat, ditulis dengan bahasa daerah, menyiratkan kekecewaan sekaligus perpisahan. Ia meminta maaf karena merasa merepotkan ibunya.

Surat itu menjadi bukti bahwa beban batin seorang anak bisa jauh lebih berat dari yang orang dewasa bayangkan.

Peristiwa ini menampar nurani publik. Bagaimana mungkin kebutuhan paling dasar untuk belajar yang nilainya hanya belasan ribu rupiah menjadi penghalang masa depan seorang anak?

Di daerah terpencil seperti Jerebuu, sekolah memang tersedia, tetapi dukungan nyata bagi keluarga miskin sering tak sampai. Bantuan pendidikan, seragam, dan alat tulis masih menjadi kemewahan bagi sebagian warga.

Tragedi ini menjadi peringatan keras bahwa persoalan pendidikan bukan hanya soal bangunan sekolah dan kurikulum, tetapi juga tentang kehadiran negara dalam kehidupan sehari-hari rakyat miskin.

Kematian YBR seharusnya tidak menjadi angka statistik semata. Ia adalah simbol dari anak-anak lain yang mungkin memendam putus asa serupa tanpa pernah terdengar.[Int]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *