Andreas Pareira Minta Tragedi Bocah SD Ngada Tak Terulang
Andreas Minta Kasus Bocah SD Tak Terulang
JAKARTA, Matanews — Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Andreas Hugo Pareira meminta agar peristiwa tragis yang menimpa seorang bocah sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang mengakhiri hidupnya, tidak kembali terulang. Ia menilai kejadian tersebut menjadi peringatan keras bagi negara, keluarga, dan masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya.
Menurut Andreas, meskipun negara belum sepenuhnya mampu mengentaskan kemiskinan secara total, keluarga dan lembaga-lembaga sosial di tengah masyarakat seharusnya turut mengambil tanggung jawab moral atas kondisi yang dapat mendorong keputusasaan pada anak-anak.

“Semoga dari peristiwa ini kita semua di bangsa ini, di masyarakat ini sadar, sehingga tidak terjadi lagi,” kata Andreas di Jakarta, Rabu (4/1/2026).
Ia menyebut kasus tersebut sangat memilukan dan menyentuh nurani siapa pun yang masih memiliki kepekaan sosial. Peristiwa itu, kata dia, tidak bisa dilihat semata sebagai tragedi individual, melainkan sebagai cerminan persoalan sosial yang lebih luas.
Untuk itu, Andreas meminta aparat kepolisian mengusut secara tuntas penyebab peristiwa tersebut dan menyampaikan penjelasan yang terang kepada publik. Penelusuran yang menyeluruh dinilai penting agar kejadian serupa dapat dicegah di masa mendatang.
Selain aparat penegak hukum, Andreas juga menekankan peran pemerintah daerah. Menurut dia, pemerintah setempat harus hadir secara serius dalam menangani kondisi keluarga korban, baik dari sisi pendampingan sosial maupun perlindungan terhadap anak-anak yang masih hidup.
Bagaimanapun, kata Andreas, peristiwa tersebut menjadi tamparan bagi semua pihak. Ia menilai bocah itu diduga mengalami keputusasaan yang berkaitan dengan hilangnya perhatian dan kasih sayang, baik dari lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar.
“Tanggung jawab sosial kita seharusnya terusik untuk menjadi tumpuan menyelamatkan generasi anak-anak ini untuk tumbuh dewasa,” ujar Andreas.
Sebelumnya, seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya. Korban meninggalkan sepucuk surat yang ditujukan kepada ibundanya, berinisial MGT, berusia 47 tahun.
Korban diketahui tinggal bersama neneknya. Sang ibu, yang merupakan orang tua tunggal, bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi keluarganya. Selain korban, ibunda tersebut masih harus mengurus empat anak lainnya.
Kasus ini memicu keprihatinan luas dan mendorong berbagai pihak untuk menyerukan penguatan perlindungan sosial, perhatian keluarga, serta peran negara dalam memastikan anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman dan penuh kepedulian.[Int]






