Andy Achmad, Suara Emas dari Lampung yang Tak Pernah Redup
Andy Achmad Legenda Lampung
LAMPUNG, Matanews — Nama Kanjeng Andy Achmad telah lama menjadi bagian dari denyut sejarah musik Lampung dan Indonesia. Karier yang dirintis sejak awal 1970-an menempatkannya sebagai salah satu penyanyi legendaris yang tetap eksis melintasi zaman.
Di tengah perubahan selera dan industri musik yang terus bergerak cepat, Andy Achmad berdiri sebagai penanda era—suara khas yang kuat, pembawaan panggung yang matang, dan dedikasi panjang terhadap musik daerah maupun nasional.
Dari Lapangan Enggal ke Panggung Nasional
Perjalanan kariernya dimulai pada awal 1970-an. Saat itu, ia mengikuti ajang pemilihan Pop Singer di Lapangan Enggal, Lampung. Andy meraih Juara I kategori pria, sementara Juara I wanita diraih Irma Siregar. Kemenangan tersebut menjadi pintu pembuka menuju panggung yang lebih luas.
Tak lama berselang, ia juga menorehkan prestasi dalam lomba lagu Pop Melayu di Lampung. Bakatnya yang menonjol membawanya hijrah ke Jakarta.
Pada 1970, ia bergabung dengan Band BKS Kostrad. Tiga tahun kemudian, 1973, Andy dipercaya memimpin grup band Krakatau Steel—sebuah langkah penting yang mengukuhkan posisinya sebagai musisi profesional.
Di masa itu, Indonesia baru memiliki satu stasiun televisi nasional, yakni TVRI. Tampil di layar TVRI merupakan prestise tersendiri bagi musisi. Andy Achmad menjadi salah satu figur yang merasakan panggung bergengsi tersebut, memperkenalkan suaranya ke audiens nasional.

Jejak di Layar Kaca dan Film Nasional
Seiring berkembangnya industri televisi swasta, Andy tetap aktif tampil di berbagai program musik. Ia juga sempat membintangi sejumlah film nasional dan sinetron, memperluas kiprahnya di dunia hiburan.
Dalam perjalanan kariernya, Andy kerap bersilaturahmi dan berinteraksi dengan sejumlah artis besar tanah air, seperti Titi Puspa dan Amelia Contessa.
Suaranya dikenal kuat dan berkarakter, terutama saat membawakan lagu-lagu lawas yang sarat emosi. Ia tidak sekadar menyanyi, tetapi menghadirkan narasi dan rasa dalam setiap bait.
Mendirikan Band Puranti
Pada 1984, Andy kembali ke Lampung. Ia dipercaya oleh Wali Kota Bandar Lampung saat itu, Zulkarnain Subing, untuk mendirikan Band Puranti.
Band tersebut dibentuk bersama Muslieh Harni, penyanyi senior yang berprestasi dalam ajang Bintang Radio dan Televisi periode 1975–1981. Muslieh menjadi rekan seperjalanan Andy sejak 1980-an. Meski personel sempat berganti, Band Puranti tetap eksis hingga kini di bawah kepemimpinan Andy Achmad.

Kiprah di Dapur Rekaman
Tahun 1975 menjadi tonggak penting ketika Andy masuk dapur rekaman bersama Hetty Koes Endang untuk merilis lagu-lagu Pop Lampung.
Kemudian pada 1988, ia kembali merilis lagu Pop Lampung bersama Muslieh Harni dengan dukungan Dinas Pendidikan. Beberapa lagu yang dirilis antara lain Tanoh Lada, Bersanding, Reboi Sasi, dan Cangget Nagung.
Pada 2005, Andy kembali merilis lagu pop Indonesia ciptaan Haris Tasman. Lagu Tanoh Lada kembali mengangkat namanya sebagai penyanyi legendaris Lampung.
Memasuki 2025, produktivitasnya tak surut. Ia merilis dua single baru:
• Tak Mungkin Bersama (ciptaan Minggus Tahitoe)
• Ikrar Cinta (ciptaan Dommy Allen)
Dalam waktu dekat, Andy juga akan meluncurkan dua lagu terbaru yang didukung oleh Nia Daniaty, penyanyi yang dikenal lewat lagu Gelas-Gelas Kaca. Kolaborasi ini menjadi penanda bahwa Andy tetap relevan dan terbuka terhadap sinergi lintas generasi.

Tetap Eksis, Tetap Menginspirasi
Di usia yang tidak lagi muda, semangat bermusik Andy Achmad tetap menyala. Bersama rekan-rekannya, termasuk Muslih Heri, ia terus tampil membawakan lagu-lagu nostalgia yang dirindukan banyak kalangan.
Selain dikenal sebagai penyanyi berbakat, ia juga dipandang sebagai sosok dermawan dan gemar berbagi. Integritas pribadi dan konsistensinya berkarya menjadikan namanya dihormati oleh artis senior maupun generasi muda.
Legenda, dalam pengertian yang sesungguhnya, bukan hanya tentang masa lalu yang gemilang. Ia adalah tentang keberanian untuk terus melangkah, tetap berkarya, dan menjaga nyala seni di tengah perubahan zaman.
Andy Achmad telah membuktikan itu—dari Lapangan Enggal hingga panggung nasional, dari era TVRI hingga kolaborasi masa kini. Sebuah perjalanan panjang yang tidak hanya membangun reputasi, tetapi juga meninggalkan jejak sejarah dalam musik Lampung dan Indonesia. (Bgs)






