Dinkes Bekasi Siagakan Layanan Kesehatan 24 Jam

Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menyiagakan pelayanan kesehatan selama 24 jam bagi warga terdampak banjir

Penyakit Kulit Merebak, Dinkes Bekasi Bergerak

BEKASI, Matanews — Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menyiagakan pelayanan kesehatan selama 24 jam bagi warga terdampak banjir yang melanda wilayah tersebut dalam dua pekan terakhir. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan kesehatan masyarakat tetap terpenuhi di tengah kondisi banjir yang belum sepenuhnya surut.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Supriadinata, mengatakan tim medis telah diterjunkan ke sejumlah lokasi banjir guna mengoptimalkan kesiagaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.

“Banjir tahun ini memang cukup luar biasa. Kami fokus memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan dengan membentuk pos-pos kesehatan di wilayah terdampak banjir, terutama di wilayah utara Kabupaten Bekasi,” kata Supriadinata di Cikarang, Minggu (1/2/2026).

Ia menyebutkan wilayah yang menjadi prioritas penanganan meliputi sejumlah kecamatan di wilayah utara, antara lain Babelan, Tarumajaya, hingga Muaragembong. Di wilayah-wilayah tersebut, petugas kesehatan tidak hanya menunggu warga datang ke posko, tetapi juga aktif berkeliling untuk memberikan pelayanan medis.

Selain mendirikan posko kesehatan, seluruh fasilitas puskesmas di Kabupaten Bekasi telah diinstruksikan untuk beroperasi penuh dan memberikan pelayanan kesehatan selama 24 jam. Tim medis juga menerapkan sistem jemput bola dengan turun langsung ke lokasi banjir dan pengungsian.

Bekasi
Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menyiagakan pelayanan kesehatan selama 24 jam bagi warga terdampak banjir

“Seluruh puskesmas tetap buka dan petugas melakukan monitoring langsung ke lapangan secara bergantian. Kami membagi tim menjadi lima kelompok, masing-masing terdiri dari tenaga medis dari empat hingga lima puskesmas,” ujarnya.

Supriadinata mengakui banjir berdampak pada kondisi kesehatan masyarakat. Penyakit kulit menjadi keluhan yang paling banyak ditemukan di lapangan. Selain itu, sejumlah warga juga mengalami gangguan saluran pernapasan akibat lingkungan yang lembap dan sanitasi yang kurang memadai.

“Kami mengingatkan masyarakat agar memastikan air yang digunakan untuk minum benar-benar bersih serta mewaspadai penyakit yang bersumber dari air tercemar seperti leptospirosis dan penyakit kulit,” ucapnya.

Ia juga berpesan kepada seluruh tenaga kesehatan yang bertugas di lapangan agar tetap menjaga kondisi tubuh demi optimalisasi kinerja pelayanan.

“Kami mengimbau tim medis untuk menjaga kesehatan, mengonsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, serta selalu membersihkan diri setelah bertugas di lokasi banjir,” katanya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Muaragembong dr Ridwan Meito Tomanyira menambahkan pihaknya menghadirkan layanan puskesmas keliling untuk menjangkau warga terdampak banjir di sejumlah desa di wilayah utara Kabupaten Bekasi.

“Langkah ini dilakukan sebagai upaya memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan di tengah keterbatasan akses akibat genangan banjir,” kata Ridwan.

Menurut dia, layanan puskesmas keliling telah menjangkau sejumlah lokasi banjir dan pengungsian dengan waktu pelayanan mulai pagi hingga sore hari. Petugas bergerak secara mobile dan tidak menetap di satu lokasi.

“Sampai saat ini, dari beberapa desa yang wilayahnya terdampak banjir, sudah diberikan layanan kesehatan oleh tenaga kesehatan Puskesmas Muaragembong melalui petugas mobile layanan medis,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, petugas memanfaatkan perahu karet milik BPBD Kabupaten Bekasi untuk menjangkau lokasi pelayanan, mengingat sebagian besar akses darat tidak dapat dilalui.

“Jenis penyakit yang sering kami temui antara lain diare, gatal-gatal, penyakit kulit, hingga infeksi saluran pernapasan akut. Kendala kami saat ini adalah ketersediaan obat yang semakin terbatas sehingga membutuhkan dukungan tambahan. Untuk kasus yang membutuhkan penanganan lanjutan, kami arahkan untuk dirujuk ke rumah sakit,” kata Ridwan.

Berdasarkan data BPBD Kabupaten Bekasi per Minggu, 1 Februari 2026, banjir masih menggenangi 45 desa di 13 kecamatan dengan total 194 titik genangan. Sebanyak 51.796 kepala keluarga terdampak banjir tahunan tersebut. Dari jumlah itu, 1.388 kepala keluarga atau 4.508 jiwa masih mengungsi di 18 lokasi pengungsian yang disiagakan pemerintah daerah. (Int)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *