Jaipong Naik Kelas, Nasional dari Subang, 3700 Peserta, Galuh Pakuan Tak Tertandingi
Jaipong Naik Kelas, Prestise Tetap Tinggi
SUBANG, Matanews — Festival Galuh Pakuan Cup Seri IX kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu perhelatan paling bergengsi dalam peta Pasanggiri Jaipong di Indonesia. Di tengah partisipasi sekitar 3.700 peserta, festival yang digelar secara mandiri ini tak hanya menjadi arena kompetisi, tetapi juga ruang konsolidasi nilai, disiplin, dan arah masa depan tari Jaipong kreasi.
Bob Rian, pimpinan Bob Ethnic Studio asal Ciparay, Kabupaten Bandung, menyebut Galuh Pakuan Cup sebagai level tertinggi Pasanggiri Jaipong Kreasi, bahkan telah melampaui batas Jawa Barat dan layak disebut berskala nasional.
“Ini sudah nasional,” ujar Bob Rian. “Bukan hanya se-Jawa Barat. Dari sisi kualitas, gengsi, dan lawan yang dihadapi, ini level paling tinggi.”
Bob Rian mengaku telah mengikuti Galuh Pakuan Cup secara konsisten selama lima tahun terakhir. Menurutnya, konsistensi penyelenggaraan hingga seri ke-9 menjadi bukti bahwa festival ini bukan acara seremonial, melainkan agenda kebudayaan yang memiliki kontinuitas dan legitimasi di mata pelaku seni.
Dalam menghadapi festival dengan ribuan peserta, Bob Ethnic Studio melakukan persiapan sejak jauh hari. Sejak pendaftaran dibuka, proses eksplorasi langsung dimulai—mulai dari pembacaan musik, penentuan arah cerita, hingga penguatan karakter gerak.
“Di Galuh Pakuan itu lebih ke power,” kata Bob Rian. “Bukan hanya soal hafal gerak, tapi bagaimana tenaga, kekuatan kaki, dan olah tubuh. Olah tubuh itu paling penting.”

Meski durasi persiapan formal sekitar satu setengah bulan, Bob Rian menyebut proses penggarapan sejatinya berlangsung terus-menerus. Setelah materi dasar selesai, latihan difokuskan pada penyempurnaan detail, kekuatan fisik, dan mental penari.
Perbedaan utama Galuh Pakuan Cup dibanding festival Jaipong lain, menurut Bob Rian, terletak pada tingkat persaingan. “Ini ajang bergengsi. Tidak bisa menyepelekan siapa pun. Semua yang ikut adalah yang terbaik,” ujarnya.
Dampak festival ini terhadap pembinaan sanggar pun terasa signifikan. Setiap Galuh Pakuan digelar, sanggar dituntut menghadirkan karya yang lebih spektakuler dari tahun sebelumnya. Situasi ini menciptakan standar baru yang mendorong kemajuan kualitas secara kolektif.
Bob Rian juga menekankan pentingnya peran dewan juri yang berasal dari kalangan akademisi. Menurutnya, kredibilitas festival budaya sangat bergantung pada pemahaman juri terhadap pakem atau *tetekon* Jaipong.
“Kita ini orang Sunda, ada garisnya,” katanya. “Tidak boleh keluar dari unsur Jaipong. Juri akademisi itu penting untuk menjaga itu.”
Menariknya, festival sebesar Galuh Pakuan Cup Seri IX diselenggarakan tanpa dukungan langsung pemerintah, dengan DonTing Management sebagai sponsor tunggal. Bagi Bob Rian, kondisi tersebut justru menunjukkan kemurnian tujuan festival.
“Ini luar biasa,” ujarnya. “Tidak ada kepentingan apa pun selain memajukan sanggar-sanggar, baik di Jawa Barat maupun di luar.”
Ia pun menyampaikan pesan khusus kepada sponsor tunggal agar tidak berhenti mendukung proses kebudayaan. “Jangan pernah berhenti berproses,” katanya singkat.
Bagi Bob Rian, Galuh Pakuan Cup telah menjadi agenda tahunan yang tidak terpisahkan. Setiap akhir tahun, khususnya bulan Desember, festival ini selalu dinantikan. Efeknya bukan hanya prestise, tetapi juga pertumbuhan sanggar dan peningkatan jumlah murid.
“Galuh Pakuan jangan sampai berhenti,” tegasnya. “Kalau berhenti, sanggar-sanggar kehilangan barometer.”
Ia juga menaruh harapan besar pada generasi muda sebagai pewaris Jaipong. Menurutnya, keberlanjutan seni budaya Jawa Barat sepenuhnya bergantung pada keterlibatan anak muda dalam ruang-ruang kompetisi yang sehat dan terarah.
Terkait peran pemerintah, Bob Rian mengakui bahwa selama ini sanggar lebih banyak bergerak secara mandiri. Namun ia berharap, prestasi yang diraih penari terutama jika disertai sertifikat resmi kementerian—dapat menjadi pintu masuk dukungan yang lebih konkret, terutama dalam jalur prestasi pendidikan.
“Bukan soal uang,” katanya. “Tapi soal arah. Setelah juara, mau ke mana lagi? Itu yang perlu dipikirkan bersama.”
Dalam Festival Galuh Pakuan Cup Seri IX, Bob Ethnic Studio menurunkan hampir seluruh kategori, mulai dari Kadet, Junior, Senior Duo, hingga Rampak, dengan total sekitar 80 penari di sanggar. Namun Bob Rian menegaskan bahwa kesiapan mental menjadi syarat utama, bukan sekadar kemampuan teknis.
Menutup perbincangan, Bob Rian menyampaikan pesan yang menjadi prinsip hidup berkesenian di sanggarnya:
“Proses tidak akan pernah mengkhianati hasil. Jangan diam. Semangat terus.”
Kalimat itu merangkum semangat Galuh Pakuan Cup itu sendiri sebuah festival yang tumbuh dari proses panjang, digerakkan secara mandiri, dan kini berdiri sebagai salah satu penanda paling penting dalam lanskap Jaipong Indonesia. (Wly)





