Kasus Siswa SD Bunuh Diri di Ngada Tembus Istana Negara
Tragis! Anak SD Bunuh Ngada Jadi Perhatian Negara
KUPANG, Matanews — Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur menyatakan kasus meninggalnya seorang siswa kelas IV sekolah dasar di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, yang diduga bunuh diri, telah menjadi perhatian hingga tingkat Istana Negara. Peristiwa ini disebut sebagai kasus serius yang memerlukan penanganan menyeluruh, tidak hanya dari sisi hukum, tetapi juga aspek sosial dan psikologis.

Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur, Inspektur Jenderal Rudi Darmoko, mengatakan informasi mengenai peristiwa tersebut telah dilaporkan ke pusat dan mendapat atensi nasional. Menurut dia, kasus ini tidak dapat dipandang sebagai peristiwa tunggal, melainkan harus dibaca dalam konteks perlindungan anak dan kesehatan mental.
“Ini sangat-sangat atensi karena kasusnya sudah sampai ke Istana Negara,” ujar Rudi saat ditemui di sela peresmian Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (Ditres PPA-PPO) Polda NTT, Rabu, 4 Februari 2026.
Rudi menyebutkan, Polda NTT telah menginstruksikan Kapolres Ngada, Ajun Komisaris Besar Polisi Andrey Valentino, untuk mendatangi langsung kediaman keluarga korban. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk empati institusi kepolisian sekaligus memastikan keluarga korban memperoleh pendampingan yang layak.
Selain menyerahkan santunan, kepolisian juga menyiapkan pendampingan psikologis bagi keluarga yang ditinggalkan. Pendampingan ini, menurut Rudi, penting untuk membantu keluarga menghadapi masa berduka serta mencegah dampak psikologis lanjutan, terutama terhadap anggota keluarga lain yang masih anak-anak.
“Pendekatan kami tidak semata-mata penegakan hukum, tetapi juga kemanusiaan. Keluarga korban harus didampingi secara psikologis,” kata Rudi.
Ia menambahkan, kepolisian akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, dinas pendidikan, serta lembaga terkait untuk menelusuri latar belakang peristiwa tersebut. Evaluasi terhadap lingkungan sekolah dan sosial korban juga akan dilakukan guna memastikan tidak ada faktor kekerasan, perundungan, atau tekanan lain yang luput dari perhatian.
Kasus ini kembali menyoroti persoalan kesehatan mental anak dan sistem perlindungan anak di daerah. Rudi menegaskan bahwa kejadian serupa tidak boleh terulang dan harus menjadi pembelajaran bersama bagi orang tua, sekolah, serta pemerintah.
Polda NTT menyatakan akan terus memantau perkembangan penanganan kasus ini dan memastikan hak-hak anak serta keluarga korban tetap terlindungi.(Zee)





