Kemenhub Perkuat Bandara sebagai Pusat Respon Bencana

Kemenhub Siapkan Bandara Hadapi Bencana

JAKARTA, Matanews — Kementerian Perhubungan memperkuat peran bandar udara sebagai pusat respon bencana untuk mempercepat mobilisasi, distribusi logistik, serta penyaluran bantuan kemanusiaan dalam penanganan darurat di berbagai wilayah terdampak bencana.

Kemenhub

Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Achmad Setiyo Prabowo mengatakan transportasi udara memegang peran strategis dalam situasi kebencanaan, terutama ketika akses darat dan laut terganggu.

“Transportasi udara menjadi tulang punggung dalam evakuasi korban, distribusi bantuan kemanusiaan, mobilisasi personel, serta percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana,” kata Setiyo dalam keterangannya di jakarta, Kamis (5/2/2026).

Penegasan tersebut disampaikan Setiyo saat membuka Rapat Koordinasi Wilayah Kerja Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VI Padang Tahun 2026 yang digelar di Padang, Sumatera Barat. Dalam forum tersebut, Kemenhub menekankan komitmennya untuk memperkuat kesiapan sistem transportasi udara di kawasan rawan bencana.

Menurut Setiyo, posisi geografis Indonesia yang berada di kawasan ring of fire membuat tingkat kerawanan bencana sangat tinggi, mulai dari gempa bumi dan tsunami hingga bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim. Dalam kondisi tersebut, transportasi udara berfungsi sebagai jalur kehidupan atau lifeline yang memastikan bantuan dan dukungan dapat segera menjangkau daerah terdampak.

Sebagai langkah konkret, Kemenhub melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara bersama pengelola bandar udara terus memperkuat konsep resilient infrastructure. Bandara tidak lagi diposisikan semata sebagai simpul transportasi, tetapi juga sebagai pusat respon bencana dan logistik kemanusiaan.

“Sejumlah bandara di wilayah Sumatera telah disiapkan agar tetap mampu beroperasi dalam kondisi darurat,” ujar Setiyo.

Di tempat yang sama, Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VI Purnama Pangalinan menyampaikan bahwa Rakorwil menghasilkan sejumlah kesepakatan dan rekomendasi strategis. Salah satunya adalah penguatan koordinasi lintas instansi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta penerapan protokol terpadu antar lembaga terkait.

Instansi yang terlibat antara lain BNPB dan BPBD, TNI dan Polri, Basarnas, BMKG, AirNav Indonesia, serta pemangku kepentingan sektor penerbangan lainnya. Koordinasi ini ditujukan untuk menjamin kesiapan transportasi udara yang cepat, aman, dan terkoordinasi saat terjadi bencana.

Rakorwil juga merekomendasikan peningkatan kapasitas teknis personel otoritas bandar udara, khususnya di bidang kelaikudaraan dan pengoperasian pesawat udara. Termasuk di dalamnya pengawasan penerbangan sipil asing pada kondisi darurat dan kebencanaan.

Selain itu, disepakati pula integrasi tata kelola dan standar operasional prosedur operasi udara lintas instansi, serta pelaksanaan latihan kesiapsiagaan secara berkala guna memastikan respon bencana yang konsisten dan efektif.

Purnama menambahkan, kolaborasi dengan lembaga pendidikan dan pelatihan penerbangan, seperti PPI Curug dan Poltekbang Palembang, menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pelatihan dan simulasi terpadu penanggulangan bencana.

Rakorwil juga mendorong penyusunan, standardisasi, dan evaluasi berkala dokumen Get Airport Ready for Disaster (GARD) untuk menjamin keselamatan serta kesinambungan operasi penerbangan darurat. Penguatan pengawasan dan koordinasi penyelenggaraan angkutan udara difokuskan pada kesiapsiagaan, penanganan, hingga pemulihan layanan penerbangan dan pelayanan penumpang secara terpadu.

“Kami berharap seluruh pemangku kepentingan dapat menjalankan hasil rekomendasi ini untuk memperkuat ketangguhan sistem transportasi udara di kawasan rawan bencana,” kata Purnama.

Rapat koordinasi tersebut dihadiri perwakilan pemerintah daerah, TNI dan Polri, operator bandar udara, AirNav Indonesia, BMKG, maskapai penerbangan, Unit Penyelenggara Bandar Udara di wilayah kerja OBU VI, serta pemangku kepentingan sektor penerbangan lainnya. Forum ini mengusung tema “Kesiapan Transportasi Udara di Kawasan Rawan Bencana: Selamat, Aman, dan Pulih Lebih Cepat.”[Int]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *