Kemenperin: 1.236 Perusahaan Industri Mulai Produksi, Serap 218.892 Tenaga Kerja

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (Ist)

Kemenperin Tancap Gas

JAKARTA, Matanews Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global, sektor industri manufaktur nasional menunjukkan sinyal pemulihan yang solid. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, hingga 15 Januari 2026, sebanyak 1.236 perusahaan industri mulai berproduksi untuk pertama kalinya sepanjang tahun ini. Aktivitas produksi tersebut telah menyerap 218.892 tenaga kerja di berbagai subsektor industri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, capaian ini menjadi indikator penting ketahanan struktur industri nasional. Menurut dia, geliat industri manufaktur tetap terjaga meskipun perekonomian global masih diwarnai volatilitas, mulai dari ketegangan geopolitik, fluktuasi harga komoditas, hingga perlambatan permintaan global.

“Mulainya produksi lebih dari seribu perusahaan industri menunjukkan bahwa fondasi industri manufaktur nasional cukup kuat. Industri tetap menjadi motor penggerak utama perekonomian nasional,” ujar Agus dalam pernyataannya di Jakarta, Minggu (18/1/2026).

Pada 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas sebesar 5,51 persen, lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan ekonomi nasional. Target ini menegaskan posisi strategis sektor manufaktur sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi.

Agus optimistis target tersebut dapat dicapai seiring beroperasinya kapasitas produksi baru yang berasal dari perusahaan-perusahaan yang telah menyelesaikan tahap pembangunan pada 2025. Dari sisi investasi, sektor industri pengolahan nonmigas mencatatkan nilai Rp551,88 triliun, termasuk investasi mesin dan peralatan di luar tanah dan bangunan sebesar Rp444,25 triliun.

Kemenperin
Kemenperin Logo (Ist)

“Kapasitas produksi baru ini penting untuk menjaga kesinambungan pasokan industri, memperkuat struktur manufaktur nasional, sekaligus membuka lapangan kerja baru,” kata Agus.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan, Kemenperin terus mendorong percepatan industrialisasi, transformasi industri 4.0, serta penguatan keterkaitan industri hulu dan hilir Langkah ini diarahkan untuk memastikan ketersediaan bahan baku, meningkatkan efisiensi rantai pasok, dan memperkuat daya saing industri nasional.

Dari sisi permintaan, pasar domestik masih menjadi penopang utama, dengan kontribusi sekitar 80 persen terhadap pertumbuhan industri manufaktur nasional pada 2026. Sementara itu, pasar ekspor menyumbang sekitar 20 persen.

Penguatan pasar dalam negeri ditempuh melalui berbagai kebijakan, antara lain substitusi impor, peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)**, optimalisasi belanja pemerintah dan BUMN untuk produk lokal, serta penguatan peran industri kecil dan menengah (IKM) agar terintegrasi dalam rantai pasok nasional.

“Kami memastikan produk industri dalam negeri menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Pasar domestik adalah jangkar utama pertumbuhan industri manufaktur,” ujar Agus.

Buruh
Buruh (Ist)

Sejumlah subsektor diproyeksikan mengalami lonjakan permintaan sepanjang 2026. Industri logam dasar didorong oleh proyek infrastruktur dan program hilirisasi. Industri makanan dan minumantetap menjadi kontributor terbesar PDB manufaktur. Sementara itu, industri kimia, farmasi, dan obat-obatan tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan produk kesehatan dan bahan kimia industri.

Dari sisi eksternal, Kemenperin menargetkan kontribusi ekspor produk industri pengolahan nonmigas mencapai 74,85 persen dari total ekspor nasional pada 2026. Target ini sejalan dengan Rencana Strategis Kemenperin 2025–2029, yang menitikberatkan pada diversifikasi pasar ekspor, peningkatan daya saing produk, serta penguatan promosi industri nasional di pasar global.

Dalam aspek ketenagakerjaan, sektor industri pengolahan nonmigas ditargetkan menyerap 14,68 persen tenaga kerja nasional, dengan tingkat produktivitas mencapai Rp126,2 juta per orang per tahun. Untuk mendukung sasaran tersebut, investasi industri pengolahan nonmigas pada 2026 ditargetkan meningkat hingga Rp852,9 triliun.

Menghadapi tantangan global yang kian kompleks, Kemenperin juga menginisiasi Strategi Baru Industri Nasional (SBIN) sebagai kerangka kebijakan jangka menengah dan panjang. Melalui pendekatan forward dan backward linkage, SBIN diarahkan untuk memperkuat keterkaitan sektor hulu, manufaktur, dan jasa, sekaligus memperluas penyerapan tenaga kerja.

Strategi ini juga disinergikan dengan program prioritas pemerintah, mulai dari swasembada pangan dan energi, penguatan industri strategis, hingga dukungan industri terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan layanan kesehatan.

“Strategi Baru Industri Nasional menjadi acuan penguatan struktur industri. Pendekatan hulu-hilir kami dorong agar industri nasional memiliki daya saing yang berkelanjutan,” kata Agus.

Dengan penguatan sisi pasokan dan permintaan tersebut, Kemenperin optimistis industri manufaktur nasional tetap tumbuh di atas 5 persen sepanjang 2026, sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. (Yor)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *