Mahasiswa STIK Angkatan 83/WPS Sumbang 70 Ekor Sapi untuk Meugang di Aceh
Ramadan Menggetar, Warga Aceh Terharu
ACEH, Matanews — Pagi itu, udara di Gampong Blang, Langsa Kota, masih menyisakan jejak duka akibat bencana yang melanda sejumlah wilayah di Aceh. Rumah-rumah yang belum sepenuhnya pulih berdiri berdampingan dengan wajah-wajah warga yang berusaha tegar. Namun Senin pagi itu menghadirkan suasana berbeda: haru, syukur, dan harapan.
Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) angkatan 83/Widya Parama Satwika menyerahkan bantuan 70 ekor sapi untuk mendukung pelaksanaan tradisi meugang bagi masyarakat terdampak bencana. Penyerahan dilakukan secara simbolis di halaman meunasah desa, disaksikan perwakilan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta warga yang selama beberapa bulan terakhir berjuang bangkit dari situasi sulit.
Puluhan sapi tersebut akan didistribusikan ke sejumlah desa di wilayah Aceh yang terdampak bencana. Distribusi dilakukan secara bertahap dengan melibatkan aparatur gampong dan mahasiswa STIK yang turun langsung memastikan bantuan tepat sasaran.

Menghidupkan Tradisi di Tengah Keterbatasan
Bagi masyarakat Aceh, meugang bukan sekadar tradisi menyembelih dan memasak daging menjelang Ramadhan. Ia adalah peristiwa sosial dan kultural yang mempertemukan keluarga, mempererat silaturahmi, serta menegaskan identitas kolektif sebagai masyarakat yang menjunjung adat dan nilai kebersamaan.
Dalam kondisi normal, meugang dijalankan dengan penuh suka cita. Namun pasca-bencana, banyak keluarga menghadapi keterbatasan ekonomi. Harga kebutuhan pokok meningkat, mata pencaharian terganggu, dan prioritas hidup beralih pada pemulihan rumah serta kebutuhan dasar.
Bantuan 70 ekor sapi itu, dalam konteks inilah, menjadi lebih dari sekadar hewan kurban. Ia menjelma simbol kehadiran dan empati.
Ketua STIK, Irjen Pol Eko Rudi Sudarto, menyatakan bantuan tersebut merupakan implementasi nilai-nilai kemanusiaan yang senantiasa diajarkan kepada para mahasiswa.
“Sumbangan ini adalah bentuk kepedulian kita terhadap saudara-saudara di Aceh yang sedang menghadapi masa sulit pasca bencana. Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, kita harus hadir meringankan beban mereka,” kata Eko Rudi dalam keterangan tertulisnya, Rabu (18/2/2026).
Ia menekankan bahwa pembentukan perwira Polri tidak semata berbasis kecakapan teknis dan akademik, melainkan juga kepekaan sosial.
“Saya selalu mengingatkan kepada para mahasiswa kita: gunakan logika dan rasa dalam pelaksanaan tugas di tengah-tengah masyarakat. Logika membimbing kita bertindak tepat, sementara rasa membuat kita memahami penderitaan sesama. Kedua hal ini harus berjalan beriringan agar kita menjadi polisi yang tidak hanya profesional, tetapi juga humanis,” ujarnya.

Dari Kampus ke Gampong
Mahasiswa STIK angkatan 83/WPS yang hadir mengaku tergerak setelah mengikuti perkembangan kondisi masyarakat Aceh pasca-bencana. Penggalangan dana dilakukan secara internal sebagai bentuk solidaritas angkatan, sebelum diputuskan pembelian dan distribusi sapi ke wilayah terdampak.
Mereka tak hanya menyerahkan bantuan secara simbolis. Sejumlah mahasiswa turut membantu proses pendataan penerima manfaat, berkoordinasi dengan aparatur desa, hingga memantau proses distribusi agar pembagian merata dan adil.
Keuchik Gampong Blang, Junaidi, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian tersebut.
“Bantuan ini sangat berarti bagi kami yang sedang berjuang bangkit dari bencana. Mereka tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga memberikan harapan dan semangat bagi kami,” katanya.
Di antara warga yang hadir, Ibu Salmah (52) tampak menahan haru. Ia mengaku sempat khawatir keluarganya tak dapat merasakan meugang tahun ini.
“Alhamdulillah, kami masih bisa merasakan tradisi meugang tahun ini berkat bantuan dari mahasiswa STIK. Semoga Allah membalas kebaikan mereka semua,” ucapnya pelan.
Meugang sebagai Identitas Kolektif
Tradisi meugang merupakan budaya turun-temurun masyarakat Aceh yang dilaksanakan menjelang Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Pada momentum itu, masyarakat menyembelih hewan dan membagikan daging kepada keluarga serta warga sekitar. Tradisi ini bukan hanya soal konsumsi, tetapi juga solidaritas sosial.
Dalam situasi bencana, menjaga keberlanjutan tradisi menjadi penting untuk mempertahankan stabilitas psikologis dan sosial masyarakat. Kehadiran bantuan dari mahasiswa STIK angkatan 83/WPS memperlihatkan bahwa solidaritas dapat melampaui batas geografis dan institusi.
Di tengah reruntuhan yang perlahan dibenahi, 70 ekor sapi itu menjadi penanda bahwa kepedulian masih hidup. Bahwa di bulan yang sebentar lagi tiba, masyarakat Aceh tidak berjalan sendirian. (Yor)






