Pedagang Gerobak Beli Motor, Festival Galuh Pakuan Rubah Ekosistem Penghasilan Subang

Salah satu yang merasakan langsung dampaknya adalah Ibu Lina, pedagang gerobak Ketoprak dan Kupat Tahu

Festival Galuh Pakuan Cup Bawa Rejeki, Pedagang Kupat Tahu Bisa Beli Motor

SUBANG, Matanews — Di tengah hiruk-pikuk Festival Galuh Pakuan Cup yang menghadirkan ribuan penari Jaipongan dari berbagai daerah, denyut ekonomi rakyat bergerak senyap namun nyata. Salah satu yang merasakan langsung dampaknya adalah Ibu Lina, pedagang gerobak Ketoprak dan Kupat Tahu, yang memilih memindahkan seluruh aktivitas berdagangnya ke area festival selama sepekan penuh.

Keputusan itu bukan tanpa alasan. Dalam hari-hari biasa, Ibu Lina mengaku hanya mampu meraup penghasilan sekitar Rp1,2 juta per hari. Namun selama Festival Galuh Pakuan Cup berlangsung, pendapatannya meningkat signifikan hingga jauh melampaui hari normal.

“Kalau lagi ada festival begini, jauh lebih ramai. Pembeli dari pagi sampai malam,” kata Lina saat ditemui di sela-sela kesibukannya melayani antrean pembeli.

Festival Galuh Pakuan Cup, yang digelar selama satu minggu, menjadi magnet tidak hanya bagi penari dan pecinta seni, tetapi juga bagi ribuan orang tua peserta, pelatih, kru, hingga pengunjung umum. Arus manusia yang terus mengalir itu menghadirkan peluang ekonomi besar bagi pedagang kecil seperti Lina.

Pedagang
Salah satu yang merasakan langsung dampaknya adalah Ibu Lina, pedagang gerobak Ketoprak dan Kupat Tahu

Menurut Lina, pada momen festival ia sengaja tidak berjualan di tempat biasanya. Seluruh tenaga dan modal difokuskan untuk berdagang di area acara.(22/12/2025)

“Saya lebih pilih di sini. Ramainya beda. Capek, tapi hasilnya sebanding,” ujarnya.

Dampak ekonomi festival ini bukan kali pertama dirasakan Lina. Ia mengungkapkan, tahun lalu hasil berdagang di Festival Galuh Pakuan Cup bahkan cukup untuk mewujudkan impian besar: membeli kendaraan bermotor.

“Alhamdulillah, tahun kemarin bisa kebeli motor dari hasil dagang di acara ini,” katanya dengan senyum bangga.

Kisah Lina menggambarkan bagaimana sebuah festival budaya tak hanya berfungsi sebagai ruang ekspresi seni, tetapi juga sebagai mesin ekonomi rakyat. Tanpa subsidi, tanpa skema bantuan langsung, perputaran uang terjadi secara alami dari pengunjung ke pedagang, dari konsumsi ke penghidupan.

Bagi pedagang gerobak seperti Lina, festival semacam ini menjadi momentum langka yang dinanti setiap tahun. Selain meningkatkan pendapatan, acara ini juga membuka kesempatan menabung, memperbaiki taraf hidup, hingga memenuhi kebutuhan besar keluarga.

“Kalau tiap hari kayak gini mah, pedagang kecil bisa napas panjang,” ujarnya setengah berseloroh.

Festival Galuh Pakuan Cup, dengan ribuan peserta dan pengunjung yang datang silih berganti, memperlihatkan wajah lain dari kebudayaan: budaya yang menghidupi. Bukan hanya melestarikan Jaipongan di atas panggung, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi di bawah tenda-tenda sederhana.

Cerita Ibu Lina menjadi potret kecil dari dampak besar sebuah event budaya yang dikelola secara konsisten. Di balik gemuruh kendang dan gemulai tari, ada asap wajan, piring berjejer, dan pedagang kecil yang pulang dengan harapan lebih besar dari hari-hari biasa.

Dan bagi Lina, Festival Galuh Pakuan Cup bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah ruang rezeki tempat di mana gerobak sederhana bisa mengantar seseorang menuju perubahan hidup yang nyata. (Wly)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *