Pidi GPI: Ribuan Peserta, Sayangnya Minim Dukungan Pemerintah
Pidi GPI: Tanpa Negara, Festival Budaya Tetap Bertumbuh
SUBANG, Matanews — Penyelenggaraan Festival Galuh Pakuan Cup Seri IX kembali memantik perdebatan serius tentang peran negara dalam pelestarian budaya. Di tengah keberhasilan festival yang digelar secara mandiri oleh Lembaga Adat Karaton Galuh Pakuan dengan dukungan sponsor tunggal Donting Management, kritik tajam justru diarahkan kepada pemerintah daerah hingga pusat yang dinilai absen dari tanggung jawab kebudayaan.
Ketua Umum Pimpinan Daerah Gerakan Pemuda Islam (GPI) Kabupaten Subang, Diny Khoerudin, yang akrab disapa Pidi, menyebut keberhasilan Galuh Pakuan Cup sebagai ironi besar dalam tata kelola kebudayaan nasional.
“Tanpa dibantu pemerintah daerah maupun pusat, acara ini bisa melibatkan ribuan peserta, puluhan ribu pendukung, dengan hadiah ratusan juta rupiah. Ini justru menandakan ketidakmampuan pemerintah dalam melestarikan budaya tarian tradisional,” ucap Pidi saat di temui di lokasi Festival Galuh Pakuan Cup di Kabupaten Subang, pada Senin (22/12/2025).
Menurutnya, fakta bahwa sebuah festival tari tradisional Sunda berskala masif dapat berjalan secara mandiri selama sembilan seri berturut-turut merupakan cermin lemahnya keberpihakan negara terhadap kebudayaan akar rumput.
Pidi menyoroti keberadaan anggaran kebudayaan dalam struktur belanja pemerintah yang, menurutnya, tidak tercermin dalam dukungan nyata di lapangan.

“Secara otomatis ini keganjilan. Anggaran kebudayaan itu ada alokasinya. Tapi ke mana arahnya? Kami dari GPI Subang menyatakan sikap: pemerintah daerah lemah dalam melestarikan budaya Sunda,” katanya.
Festival Galuh Pakuan Cup sendiri telah berlangsung sejak seri pertama dengan pola pendanaan mandiri. Menurut Pidi, tidak ada perubahan berarti dalam dukungan pemerintah dari tahun ke tahun, bahkan ketika skala festival semakin besar.
“Dari series pertama sampai series sembilan, Galuh Pakuan Cup ini mandiri. Dan di series sembilan ini, justru ketika pesertanya membludak, dukungan pemerintah semakin tidak terlihat,” ujarnya.
Ia mempertanyakan kehadiran negara ketika lembaga adat dan pihak swasta justru mampu menggelar perhelatan budaya dengan skala besar, tertib, dan berdampak luas.
“Kita bertanya, ke mana hadirnya pemerintah saat pihak swasta dan lembaga adat menyelenggarakan pelestarian budaya Sunda seperti ini?” kata Pidi.
Sorotan tajam juga diarahkan pada Donting Management, yang menjadi sponsor tunggal Festival Galuh Pakuan Cup Seri IX. Menurut Pidi, langkah Donting menjadi simbol kekuatan masyarakat sipil yang justru melampaui peran negara.
“Donting hebat. Karena mampu menjadi sponsor tunggal. Tidak pakai sponsor produk lain. Semua kebutuhan dan alokasi biaya ditanggung Donting. Ini membuktikan kekuatan Donting melebihi pemerintah,” tegasnya.
Dalam pandangan Pidi, skala dan kualitas penyelenggaraan Galuh Pakuan Cup bahkan telah melampaui batas nasional.
“Ini bukan lagi lokal, bukan lagi nasional. Ini sudah mumpuni tingkat internasional,” katanya.
Karena itu, ia menilai seharusnya pemerintah daerah berperan aktif mendorong keterlibatan pemerintah pusat, khususnya kementerian terkait.
“Pemerintah daerah seharusnya merekomendasikan kepada pemerintah pusat agar ikut terlibat, baik secara moril maupun materil. Tapi sampai sekarang belum ada langkah konkret ke arah itu,” ujarnya.
Pidi secara khusus menitipkan pesan kepada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Kementerian Kebudayaan agar tidak bersikap pasif terhadap inisiatif pelestarian budaya yang lahir dari masyarakat.
“Jangan hanya diam, jangan menunggu laporan, jangan menunggu undangan. Pemerintah harus kolaboratif, turun langsung, dan memberikan dukungan penuh,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Pidi menyampaikan apresiasi singkat namun tegas untuk penyelenggara dan sponsor festival.
“Gaskeun. Mangprang. Hebat. Mantap,” ucapnya.
Festival Galuh Pakuan Cup Seri IX kini tidak hanya menjadi panggung kompetisi tari Jaipongan, tetapi juga ruang kritik terbuka tentang relasi negara, budaya, dan masyarakat. Di tengah gemuruh kendang dan gerak penari, suara protes terhadap absennya negara justru terdengar semakin lantang. (Red)






