Presiden Iran Tuding Donald Trump Bertanggung Jawab atas Kerusakan dan Korban Jiwa

Presiden Iran Ali Khamenei (Ist)

Presiden Iran Bergejolak

IRAN, Matanews Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menuding Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas jatuhnya korban jiwa dan kerusakan luas yang terjadi selama gelombang protes terbaru di Iran. Tuduhan itu disampaikan Khamenei dalam pertemuan dengan sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat di Teheran, Sabtu (17/1/2026).

Menurut Khamenei, apa yang terjadi di Iran dalam beberapa pekan terakhir bukanlah sekadar gejolak sosial akibat persoalan domestik, melainkan bagian dari “hasutan terencana” yang, menurutnya, melibatkan campur tangan langsung Amerika Serikat. Ia menyebut Trump tidak hanya melontarkan ancaman terbuka, tetapi juga secara aktif mendorong dan mendukung kelompok-kelompok yang dituding sebagai penghasut.

“Saya tegaskan dengan jelas bahwa tujuan Amerika dalam hasutan terbaru ini adalah menelan Iran,” ujar Khamenei, seperti dikutip media pemerintah.

Gelombang protes antipemerintah di Iran pecah pada akhir Desember lalu, dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi nasional. Nilai mata uang rial merosot tajam, inflasi melonjak, dan daya beli masyarakat terus tergerus. Aksi yang awalnya berlangsung damai di Teheran kemudian meluas ke sejumlah kota besar dan wilayah lain di Iran.

Presiden
Warga Iran Turun ke Jalan (Ist)

Situasi berubah drastis pada 8 Januari, ketika protes tersebut berkembang menjadi kerusuhan. Pemerintah Iran menuding seruan turun ke jalan yang disampaikan putra mantan raja Iran, Reza Pahlavi, yang bermukim di Amerika Serikat, sebagai pemicu eskalasi kekerasan.

Bentrok sengit antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan pun tak terhindarkan. Ratusan korban dilaporkan berjatuhan, terutama di provinsi-provinsi bagian barat Iran. Hingga kini, pemerintah belum mengumumkan jumlah resmi korban tewas, sementara perkiraan tidak resmi menyebutkan angka korban berkisar dari ratusan hingga ribuan orang.

Kepolisian Iran menyatakan bahwa aksi protes damai telah “dibajak oleh perusuh” yang diklaim mendapat dukungan dari badan intelijen Amerika Serikat dan Israel. Aparat mencatat adanya serangan terkoordinasi terhadap gedung-gedung pemerintah, kantor polisi, bank, toko, hingga masjid di berbagai wilayah, termasuk di ibu kota Teheran.

Khamenei menyebut sedikitnya sekitar 250 masjid dibakar dalam rangkaian kerusuhan tersebut. Selain itu, banyak fasilitas umum dan ekonomi dirusak, dengan nilai kerugian yang diperkirakan mencapai ratusan juta dolar AS berdasarkan perhitungan awal.

Dalam pidatonya, Khamenei menegaskan bahwa sejak Revolusi Islam Iran 1979, Amerika Serikat tidak pernah menghentikan upaya untuk “mengembalikan dominasinya” atas Iran. Ia menilai seluruh pemerintahan di Washington, tanpa memandang partai, menjalankan kebijakan yang sama terhadap Teheran.

“Jika sebelumnya tokoh-tokoh media Barat menjadi ujung tombak propaganda, kali ini presiden Amerika sendiri yang secara langsung mendorong para penghasut,” kata Khamenei, seraya menyebut kelompok-kelompok tersebut sebagai elemen bersenjata.

Donald Trump
Presiden AS, Donald Trump (Ist)

Ia juga menuduh Amerika Serikat dan Israel telah mengidentifikasi, melatih, serta menyusupkan individu-individu tertentu ke dalam negeri Iran dengan tujuan menciptakan ketakutan dan kerusakan. Menurutnya, aparat penegak hukum telah menangkap “sejumlah besar” pihak yang terlibat dalam aksi kekerasan.

Meski demikian, Khamenei menegaskan Iran tidak menginginkan perang terbuka. Namun, ia memperingatkan bahwa negaranya tidak akan membiarkan apa yang ia sebut sebagai “penjahat domestik dan internasional” lolos tanpa hukuman.

Di sisi lain, ia juga menyinggung kondisi ekonomi Iran yang dinilainya tengah berada dalam tekanan berat. Khamenei meminta otoritas terkait bekerja lebih sungguh-sungguh dalam menjamin ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat, termasuk pangan, pakan ternak, dan pasokan penting lainnya.

Pernyataan Khamenei itu disampaikan menyusul klaim Presiden Donald Trump yang mengatakan telah menangguhkan rencana serangan terhadap Iran serta menyebut bahwa Teheran telah menghentikan eksekusi terhadap para pengunjuk rasa. Namun, lembaga peradilan Iran membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa hingga kini tidak ada satu pun peserta aksi protes terbaru yang dijatuhi hukuman mati.

Situasi di Iran masih terus dipantau ketat, di tengah ketegangan yang belum mereda dan saling tuding antara Teheran dan Washington yang kian memperuncing hubungan kedua negara. (Yor)

Sumber: Anadolu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *