Rocky Gerung, Anak SD Gantung Diri di NTT, Ada yang Salah dalam Kebijakan Pemerintah

Rocky Gerung, Negara Gagal Lindungi Anak

Jakarta, Matanews— Peristiwa tragis meninggalnya seorang anak sekolah dasar berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, kembali membuka luka lama tentang ketimpangan sosial dan kegagalan kebijakan negara menjangkau warga paling rentan. Anak tersebut diduga mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri karena tekanan ekonomi keluarga, termasuk ketidakmampuan membeli perlengkapan sekolah.

Pengamat politik Rocky Gerung menilai peristiwa itu bukan sekadar tragedi individual, melainkan cermin kegagalan negara dalam memastikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Ia menegaskan, kematian seorang anak akibat kemiskinan merupakan tanda serius adanya kesalahan mendasar dalam arah kebijakan pemerintah.
rocky

“Siapa pun yang membayangkan kejadian itu, pasti menemukan ada yang salah di dalam syarat-syarat bangsa memelihara peradaban. Ada yang salah dengan kebijakan pemerintah dalam memastikan keadilan sosial,” ujar Rocky melalui kanal YouTube Rocky Gerung Official, Selasa (3/2/2026).

Rocky mengingatkan bahwa di tengah hiruk-pikuk isu besar nasional, seperti Danantara, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), serta target pertumbuhan ekonomi ambisius hingga 6–7 persen, terdapat kelompok masyarakat yang tertinggal dan tercecer dari perhatian negara.

Ia menilai pidato-pidato besar tentang kebangkitan bangsa dan kejayaan ekonomi kerap kehilangan makna ketika di lapangan masih terjadi peristiwa memilukan, seperti seorang anak bangsa yang diduga mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli buku tulis dan pena.

“Buku tulis adalah hak dia yang seharusnya disediakan oleh negara. Buku tulis adalah simbol niat untuk belajar, untuk menjadi manusia terdidik, untuk menjadi pemimpin di masa depan,” kata Rocky.

Menurut Rocky, tragedi tersebut menjadi tamparan keras bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang tengah menggaungkan visi besar Indonesia di berbagai forum nasional dan internasional. Ia menilai visi kebesaran bangsa tidak akan bermakna jika negara gagal hadir dalam kebutuhan paling dasar warganya.

Rocky juga menyoroti kebijakan pemangkasan bantuan dari pemerintah pusat ke daerah sebagai salah satu faktor yang memperparah kondisi daerah miskin seperti Nusa Tenggara Timur. Daerah-daerah dengan pendapatan asli daerah yang minim, kata dia, sangat bergantung pada intervensi dan keberpihakan negara.

“Pendapatan asli daerah yang kecil, keterbatasan akses sumber daya, serta menurunnya potensi ekonomi lokal adalah konsekuensi dari kebijakan pusat yang tidak peka terhadap kondisi daerah,” ujarnya.

Ia menambahkan, berbagai proyek besar pemerintah seperti Proyek Strategis Nasional, hilirisasi, hingga program perumahan rakyat kerap dipromosikan sebagai capaian, namun di sisi lain menyisakan kesan negatif karena mengabaikan persoalan mendasar di hulu, yakni kemiskinan ekstrem dan ketidakmampuan warga bertahan hidup.

“Masalahnya ada di kepekaan. Kepekaan terhadap kepapaan warga negara, terhadap anak-anak yang bahkan tidak punya akses pada alat paling dasar untuk belajar,” tutur Rocky.

Rocky menegaskan bahwa tragedi di Ngada seharusnya menjadi peringatan keras bagi negara. Menurutnya, janji-janji besar, pidato berapi-api, serta narasi tentang bangsa paling bahagia akan runtuh dengan sendirinya ketika realitas di lapangan justru menunjukkan sebaliknya.

“Semua janji tentang kebesaran bangsa itu bisa dibatalkan oleh satu peristiwa kemanusiaan yang sangat sederhana, tapi sangat menyakitkan,” pungkas Rocky.

Peristiwa ini kembali menempatkan isu keadilan sosial dan perlindungan anak sebagai pekerjaan rumah besar bagi negara. Di tengah agenda pembangunan dan ambisi pertumbuhan ekonomi, suara dari daerah-daerah tertinggal kembali mengingatkan bahwa pembangunan tanpa keadilan hanya akan melahirkan statistik, bukan kemanusiaan.[Red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *