SPI Jabar Gelar FGD Bahas Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani
SPI Serukan Revolusi Pertanian!
BANDUNG, Matanews— Serikat Petani Indonesia (SPI) Dewan Pimpinan Wilayah Jawa Barat menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk membedah persoalan ketahanan pangan sekaligus merumuskan langkah peningkatan kesejahteraan petani. Diskusi bertema “Membangun Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani Jawa Barat melalui Inovasi, Peningkatan Produksi, dan Solusi Infrastruktur” itu berlangsung di Hotel Luminor Metro Indah Mall, Jalan Soekarno Hatta No. 590, Kota Bandung.

Acara yang dihadiri sejumlah pemangku kepentingan strategis ini menghadirkan narasumber dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Provinsi Jawa Barat serta Bulog Kanwil Jawa Barat. Kehadiran mereka menegaskan posisi forum tersebut sebagai ruang dialog multisektor, terutama dalam merumuskan respons atas dinamika kebutuhan pangan nasional yang kian kompleks.
Petani sebagai Aktor Utama Pembangunan Pangan
Ketua SPI Jawa Barat, Irpan, dalam paparan pembukanya menekankan bahwa posisi petani tidak boleh sekadar menjadi objek kebijakan. Ia menyebut FGD ini sebagai momentum memperkuat peran strategis petani dalam pembangunan pangan nasional.

“Petani harus menjadi aktor utama dalam pembangunan pangan. Inovasi, peningkatan produksi, dan infrastruktur yang memadai adalah kunci kesejahteraan petani Jawa Barat,” ujar Irpan.
Irpan menilai kolaborasi antarlembaga menjadi aspek vital, mengingat Jawa Barat merupakan salah satu lumbung pangan penting yang menopang suplai nasional.
Isu Teknis hingga Kebijakan Mengemuka
Selama forum, sejumlah isu krusial dibahas secara mendalam. Keragaman persoalan menggambarkan kompleksitas sektor pertanian di Jawa Barat, mulai dari teknologi, pasar, hingga tantangan iklim. Beberapa poin utama adalah sebagai berikut
Penerapan Teknologi dan Inovasi Pertanian
Para peserta menyoroti perlunya mekanisasi yang lebih merata, pemanfaatan digital farming, serta peningkatan riset dan distribusi benih unggul. Teknologi dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan efisiensi lahan.
Infrastruktur Pertanian yang Belum Merata
Forum mengkritisi lemahnya jaringan irigasi, terbatasnya jalan usaha tani, serta minimnya fasilitas pascapanen. Infrastruktur yang timpang dianggap menjadi salah satu penyebab stagnasi produktivitas di beberapa wilayah.
Stabilisasi Harga dan Penguatan Cadangan Pangan
Perwakilan Bulog Jawa Barat menjelaskan strategi menjaga ketersediaan stok sekaligus menahan gejolak harga pangan. Penguatan cadangan pangan daerah disebut penting untuk menghadapi fluktuasi musim dan tekanan distribusi.

Dampak Perubahan Iklim terhadap Produktivitas
Perubahan pola cuaca dan meningkatnya intensitas bencana iklim mulai dirasakan petani. Pemerintah daerah diminta memperluas program adaptasi seperti manajemen air, diversifikasi komoditas, dan edukasi mitigasi risiko
Akses Pembiayaan dan Penguatan Kelembagaan Ekonomi Petani
Keterbatasan modal masih menjadi hambatan utama. Forum mendorong penguatan koperasi petani serta perluasan skema pembiayaan berbunga rendah untuk mempercepat peningkatan kapasitas produksi.
Rekomendasi Strategis untuk Pemerintah Daerah
Menutup diskusi, Irpan menyatakan bahwa seluruh masukan yang muncul akan dirumuskan menjadi dokumen rekomendasi resmi. Rekomendasi tersebut akan disampaikan kepada pemerintah daerah sebagai bahan formulasi kebijakan pangan yang lebih berpihak pada petani.
Menurutnya, kebijakan pangan masa depan harus berlandaskan prinsip inklusivitas, keberlanjutan, serta keberpihakan nyata kepada petani sebagai tulang punggung produksi pangan nasional.

“Hasil FGD ini bukan sekadar catatan, melainkan arah strategis untuk mendorong hadirnya kebijakan yang menyentuh akar persoalan petani,” tegas Irpan.
SPI Jawa Barat berharap pemerintah dapat menindaklanjuti rekomendasi tersebut melalui program konkret, mulai dari penguatan teknologi, revitalisasi infrastruktur, hingga penataan ekosistem pasar dan logistik pertanian. (Zee)





