Polwan Turun Gunung Pulihkan Trauma Penyintas Banjir 5 Desember.
Polwan Jaga Mental Warga Pasca Bencana
SUMATRA BARAT, Matanews — Upaya menjaga ketahanan mental para penyintas banjir dan petugas di garis depan kembali digencarkan. Tim Polwan RI bersama Tim Trauma Healing Biro Psikologi SSDM Polri melaksanakan layanan psikososial di wilayah Polda Sumatera Barat sebagai bagian dari kesiapsiagaan bencana.
Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (5/12/2025) pukul 14.00 WIB itu dipusatkan di Posko Polres Agam dan Posko SDN 05 Palembayan. Sebanyak 12 personel diterjunkan, terdiri dari anggota Polwan RI, tim trauma healing SSDM Polri, serta jajaran Bagpsi Ro SDM Polda Sumbar.

Tim gabungan ini memberikan dukungan mental kepada relawan, penyintas, hingga personel kepolisian yang tengah bertugas di wilayah terdampak. Salah satu fokus kegiatan adalah pendampingan terhadap 10 ibu relawan yang sejak awal bencana aktif dalam kerja bakti di lingkungan pengungsian.
Melalui sesi konseling dan dukungan psikososial, para relawan diajak mengenali beban emosional yang mereka pikul serta diberi ruang untuk menata kembali energi dan motivasi selama masa tanggap darurat.
Di Posko SDN 05
Palembayan, sebanyak 32 penyintas banjir mengikuti layanan hypnotherapy dan NLP (Neuro Linguistic Programming). Pendekatan ini digunakan untuk membantu para penyintas mencapai relaksasi, menurunkan tekanan psikologis, dan membangkitkan kembali kekuatan diri setelah menghadapi situasi traumatis.

Tidak hanya warga terdampak, personel Brimobda Sumbar yang berjibaku dalam penanganan banjir juga mendapat pendampingan serupa. Sebanyak 25 personel menerima konseling, phototherapy, serta teknik relaksasi ringan guna mengurangi beban fisik dan emosional selama bertugas di lapangan.
Kepala Biro Psikologi SSDM Polri, Kombes Pol. Erdi A. Chaniago, menegaskan pentingnya kegiatan tersebut.
“Upaya trauma healing ini sangat penting untuk menjaga ketahanan mental, baik bagi para penyintas maupun personel yang bekerja di lapangan. Kami ingin memastikan bahwa semua pihak mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan,” ujarnya.
Respons positif terlihat dari para peserta. Relawan mengaku lebih diperhatikan dan kembali bersemangat menjalankan aktivitas sosial di pengungsian.
Para penyintas merasakan tubuh yang lebih rileks dan pikiran yang lebih jernih setelah menjalani sesi hypnotherapy.

Sementara itu, personel Brimobda menyampaikan bahwa mereka dapat menyalurkan emosi yang selama ini terpendam serta memperoleh keterampilan sederhana untuk menjaga ketenangan selama menjalankan tugas di kawasan terdampak bencana.
Upaya layanan psikososial ini diharapkan terus berlanjut, mengingat dampak bencana tidak hanya menyisakan kerugian fisik, tetapi juga tekanan mental yang membutuhkan penanganan jangka panjang. (Dtw)





