Tim Medis Siaga, Cedera Atlet Langsung Ditangani!

tim yang bekerja dalam sunyi menjaga keselamatan atlet dan pertolongan pertama cedera dari awal hingga akhir

Dr. Ian: VO₂ Max Kunci Hindari Cedera

BANDUNG, Matanews – Di balik riuh sorak penonton dan kerasnya benturan pukulan pada arena bela diri BK PORPROV Jawa Barat 2025, ada tim yang bekerja dalam sunyi menjaga keselamatan atlet dan pertolongan pertama cedera dari awal hingga akhir. Mereka adalah tim medis pertandingan, dipimpin salah satunya oleh dr. Ian Apriana, spesialis kedokteran olahraga yang kini berdomisili di Bandung.

Cedera
tim yang bekerja dalam sunyi menjaga keselamatan atlet dan pertolongan pertama cedera dari awal hingga akhir

Dalam kesempatan wawancara singkat, dr. Ian menjelaskan bahwa tugas utama tim medis bukan sekadar hadir di pinggir arena, melainkan memastikan setiap pertandingan berlangsung aman sesuai standar kesehatan olahraga. “Fungsinya menolong. Jangan sampai terjadi hal-hal yang menyangkut terutama nyawa,” ujarnya tegas. Sabtu (6/12/2025).

Salah satu peran sentral tim medis adalah dokter pertandingan, sosok yang memiliki kewenangan menentukan apakah sebuah laga dapat dilanjutkan atau harus dihentikan.

Menurutnya, keputusan itu bukan perkara ringan. “Apabila terjadi cedera, wasit meminta pendapat dokter. Jika dokter menyatakan bisa dilanjutkan, pertandingan jalan. Tapi bila dinilai tidak laik, maka wasit menghentikan. Rule-nya jelas,” kata dr. Ian.

Sebelum pertandingan dimulai, terdapat prosedur ketat yang wajib dijalankan.

Pemeriksaan kelayakan bertanding dilakukan untuk memastikan atlet dinyatakan fit atau unfit. Selain dokter pertandingan, ada tim medis pendukung perawat dan terapis yang bertugas menangani cedera, memberikan terapi cepat, dan melakukan monitoring pascalaga. Peralatan medis pun harus lengkap dan sesuai standar keselamatan. “Yang utama adalah tandu, oksigen, spine board untuk patah tulang, collar neck, kompres es, tabung oksigen, hingga analgetik untuk mengurangi nyeri,” jelasnya.

Ketika ditanya mengenai fasilitas medis pada event kali ini, dr. Ian menilai sudah cukup baik. “Saya pikir sudah bagus. Tentu ada hal-hal manusiawi yang perlu diperbaiki. Setiap event perlu penyempurnaan. Ke depannya pasti lebih baik lagi, insyaAllah.”

Di akhir wawancara, ia memberikan pesan penting bagi para pelatih untuk meminimalkan risiko cedera atlet. “Kapasitas fisik harus kuat: power, fleksibilitas, stabilitas khususnya tungkai bawah, ketahanan abdomen, dan VO₂ max. Semua itu berperan besar menjaga atlet tetap aman di arena.”

Dengan peran tim medis yang sigap dan terlatih, keamanan para fighter bukan lagi sekadar harapan, melainkan jaminan profesional dalam setiap pertandingan. (Dtw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *