Festival Galuh Pakuan Cup, Berangkat Subuh Demi Panggung Jaipong, Pengorbanan Nyata

Peserta yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu salah satu wakil keluarga yang turun ke arena.

Dari YouTube ke Galuh Pakuan Cup

SUBANG, Matanews — Di balik gemerlap panggung Festival Galuh Pakuan Cup Seri IX, tersimpan kisah-kisah sunyi tentang pengorbanan keluarga yang jarang terdengar. Salah satunya datang dari Nova Adelia, wali peserta tari asal Sanggar Tari Bisma (STB) Sumedang, yang mengantar langsung adiknya tampil di salah satu ajang Jaipong paling bergengsi di Indonesia.

Peserta yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu salah satu wakil keluarga yang turun ke arena. Namun, perjalanan menuju panggung tidak singkat. Persiapan dilakukan selama berbulan-bulan, diwarnai konflik kecil, kesalahan teknis, hingga ketegangan menjelang tampil.

“Persiapannya cukup lama. Pasti ada konflik-konflik kecil, tapi alhamdulillah lancar,” kata Nova. Ia menyebut di panggung sempat terjadi kesalahan kecil selendang yang lupa dilepas namun tidak menyurutkan semangat sang penari.

Pakuan
Peserta yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu salah satu wakil keluarga yang turun ke arena.

Meski ini bukan kali pertama sang anak tampil di Festival Galuh Pakuan, partisipasi dalam ajang sebesar ini tetap menjadi pengalaman yang menegangkan. “Lebih dari empat kali ikut festival ini,” ujar Nova. Namun jumlah peserta yang dibawa tetap menunjukkan fokus dan keterbatasan yang harus dikelola keluarga.

Perjalanan sang penari menuju dunia tari bermula secara sederhana. Tidak ada latar belakang kompetisi sejak awal, bahkan belum pernah mengikuti festival lain sebelumnya. Ketertarikan muncul secara otodidak, berawal dari menonton video tari di YouTube.

“Awalnya iseng. Dia nonton YouTube, ngafalin gerakan, digabung-gabungin sendiri,” tutur Nova. Dalam waktu sekitar satu bulan, anak tersebut sudah berani tampil di sekolah dasar, sebelum akhirnya memutuskan bergabung dengan sanggar tari.

Bakat seni itu bukan tanpa akar. Nova mengungkapkan bahwa keluarga besar sang penari memiliki latar belakang kesenian. Ibunya adalah seorang sinden. “Keluarga seni,” katanya singkat, seolah menjelaskan bahwa darah seni memang mengalir kuat.

Pakuan
Nova mengungkapkan bahwa keluarga besar sang penari memiliki latar belakang kesenian

Namun bakat saja tidak cukup. Di balik satu penampilan, ada biaya yang harus dikeluarkan. Kostum disewa dengan kisaran Rp250 ribu. Ditambah rias wajah, keperluan pendukung, dan total pengeluaran mencapai sekitar Rp500 ribu.

“Semua kurang lebih segitu,” kata Nova, tanpa nada mengeluh.

Perjuangan semakin terasa ketika melihat jarak tempuh yang harus dilalui. Rombongan berangkat dari Sumedang pukul dua dini hari dan tiba di lokasi sekitar pukul lima pagi. Tanpa menginap, tanpa hotel, mereka langsung bersiap tampil dan berencana pulang di hari yang sama.

“Kita berangkat subuh, enggak nginep,” ujarnya.

Latihan dilakukan hampir dua bulan penuh. Namun ada dinamika unik di rumah. Sang penari justru merasa malu berlatih jika disaksikan keluarga. “Dia paling enggak suka latihan di rumah kalau dilihat saya,” kata Nova sambil tertawa kecil. Di panggung, rasa malu itu justru hilang.

Peserta ini juga datang bersama teman sekelasnya. Keduanya satu sekolah dan satu kelas, memperlihatkan bagaimana lingkungan pendidikan ikut menjadi ruang tumbuh kecintaan pada seni.

Hari penampilan itu pun dijalani dengan keterbatasan. Orang tua kandung tidak dapat mendampingi. Sang ayah tengah bekerja di Surabaya. Ibunya, yang biasanya mendampingi, sedang sakit dan harus beristirahat di rumah.

“Hari ini sama bibi dan saya saja,” kata Nova.

Kisah ini menggambarkan sisi lain Festival Galuh Pakuan Cup Seri IX bahwa ajang ini bukan sekadar kompetisi tari, melainkan ruang perjuangan keluarga-keluarga biasa yang mempertaruhkan waktu, tenaga, dan biaya demi menjaga api budaya tetap menyala.

Di tengah ribuan peserta dan megahnya penyelenggaraan, kisah Nova Adelia dan keponakannya menjadi potret nyata bahwa keberlanjutan seni tradisi tidak hanya ditopang oleh panggung besar, tetapi juga oleh keberanian anak-anak kecil, keluarga seni, dan pengorbanan yang dilakukan jauh sebelum lampu panggung menyala.

Festival ini, bagi mereka, bukan hanya lomba. Ia adalah jalan panjang merawat identitas, dimulai sejak dini, ditempuh dengan sunyi, dan dijalani dengan keyakinan bahwa budaya harus terus hidup apa pun kondisinya. (Int)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *