Haji 2026, Jemaah Makan Beras Lokal

Haji 2026, Jemaah Makan Beras Lokal

JAKARTA, Matanews – Pemerintah menyiapkan ekspor perdana sebanyak 2.280 ton beras premium produksi dalam negeri ke Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sekitar 200 ribu lebih jemaah haji Indonesia pada musim haji 2026. Kebijakan ini menjadi tonggak baru pemanfaatan produk pangan nasional dalam mendukung penyelenggaraan ibadah haji.Haji

Rencana tersebut dibahas dalam rapat koordinasi terbatas lintas kementerian dan lembaga yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan di Jakarta, Senin (9/2/2026). Dalam rapat itu, pemerintah sepakat mendorong penggunaan beras produksi dalam negeri untuk kebutuhan konsumsi jemaah Indonesia selama berada di Tanah Suci.

“Untuk tahun ini kita mulai. Kita akan bekerja keras agar jemaah haji kita berasnya dari Indonesia. Kita semua mendukung penuh memutuskan agar beras itu dari kita, ekspor ke Arab Saudi,” kata Zulkifli Hasan, yang akrab disapa Zulhas, usai rapat.

Zulhas menegaskan, keputusan tersebut dimungkinkan karena kondisi stok beras nasional berada pada level aman, bahkan diperkirakan mengalami surplus. Dengan demikian, pemenuhan kebutuhan beras untuk jemaah haji tidak akan mengganggu stabilitas pasokan maupun harga di dalam negeri.

Menurut dia, kebijakan ini tidak hanya mendukung pemenuhan logistik haji berbasis produk dalam negeri, tetapi juga menjaga kenyamanan konsumsi jemaah selama berada di Arab Saudi. Selama ini, sebagian jemaah Indonesia kerap mengeluhkan rasa dan tekstur beras di Saudi yang berbeda dengan selera di Tanah Air.

“Banyak jemaah kita di Saudi tidak cocok dengan beras di sana karena rasanya berbeda, sementara beras Indonesia lebih pulen dan sudah sesuai selera,” ujar Zulhas.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pihaknya telah menyiapkan beras premium sesuai permintaan pengelola dapur jemaah haji di Arab Saudi, dengan standar mutu internasional. Ekspor perdana direncanakan berlangsung pada minggu ketiga Februari 2026.

“Kami rencanakan ekspor perdana sekitar 2.280 ton, namun kami juga menyiapkan hingga 3.000 ton sebagai antisipasi apabila terdapat kebutuhan tambahan,” kata Ahmad.

Ia menjelaskan, beras yang diekspor memiliki spesifikasi premium, dengan tingkat butir pecah maksimal 5 persen dan kadar air di bawah 14 persen. Seluruh beras diproduksi dari gabah panen baru untuk menjaga kualitas, kesegaran, serta cita rasa yang optimal.

Menurut Ahmad, volume ekspor tersebut relatif kecil dibandingkan total stok beras Bulog yang saat ini mencapai sekitar 3,2 juta ton. Karena itu, pengiriman beras ke Arab Saudi dipastikan tidak akan berdampak terhadap pasokan domestik maupun stabilitas harga di pasar dalam negeri. Bulog juga menyiapkan cadangan tambahan untuk mengantisipasi kebutuhan lanjutan.

Pengolahan beras premium dilakukan menggunakan fasilitas penggilingan modern berteknologi terkomputerisasi. Teknologi ini memungkinkan pengendalian mutu yang ketat sehingga produk yang dihasilkan memenuhi standar kualitas yang disyaratkan mitra di Arab Saudi, sekaligus menjaga konsistensi kualitas antarpengiriman.

Dari sisi tata kelola, pemerintah memastikan seluruh proses ekspor, mulai dari pengolahan, pengemasan, hingga pengiriman, memenuhi ketentuan keamanan pangan serta persyaratan negara tujuan. Koordinasi dilakukan lintas kementerian dan lembaga teknis terkait, termasuk kepabeanan dan karantina, guna menjamin kelancaran distribusi.

Ahmad menyebutkan respons dari pemerintah Arab Saudi terhadap rencana penggunaan beras Indonesia bagi jemaah haji sangat positif. Hal ini sejalan dengan posisi Indonesia sebagai negara dengan jumlah jemaah haji terbesar setiap tahun.

“Intinya Saudi Arabia sudah welcome dan mendukung. Koordinasi perizinan impor saat ini sedang dilakukan melalui Kementerian Perdagangan kedua negara,” ungkapnya.

Pemerintah menilai ekspor beras untuk kebutuhan haji sebagai langkah awal penguatan ekspor pangan bernilai tambah, dengan skema business to business pada tahap awal. Skema ini akan dikaji lebih lanjut untuk dikembangkan menjadi kerja sama yang lebih permanen, seiring konsistensi swasembada pangan nasional.

Ke depan, pemerintah membuka peluang keberlanjutan kebijakan ekspor beras haji pada musim-musim berikutnya. Dengan penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir, kebijakan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen pangan berkualitas di pasar global.(Int)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *