Jelang Ramadan, Mahasiswa STIK Angkatan 83/WPS Bangun 12 Sumur Bor di Aceh
Bikin Haru Warga Aceh
ACEH, Matanews – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, denyut kepedulian mengalir dari para mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Angkatan 83/WPS. Di tengah wilayah Aceh yang masih bergulat dengan dampak bencana, mereka menghadirkan 12 sumur bor sebagai sumber harapan baru bagi warga yang kesulitan air bersih.
Program pembangunan sumur bor itu dimulai dari Kota Langsa, sebelum diperluas ke sejumlah kabupaten dan kota lain di Provinsi Aceh. Secara bertahap, proyek tersebut menjangkau Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Tenggara, Pidie, Pidie Jaya, Lhokseumawe, Bireuen, Bener Meriah, Nagan Raya, dan Aceh Barat. Total terdapat 12 titik sumur bor yang dibangun sebagai respons atas kebutuhan mendesak masyarakat pascabencana.

Bagi sebagian warga, akses terhadap air bersih bukan sekadar kebutuhan dasar, melainkan persoalan bertahan hidup. Bencana yang melanda sejumlah wilayah di Aceh menyebabkan infrastruktur air rusak, sumur tercemar, dan distribusi air bersih terganggu. Kondisi itu semakin terasa menjelang Ramadan, ketika kebutuhan air meningkat untuk bersuci, memasak, dan aktivitas ibadah lainnya.
Ketua STIK, Irjen Pol Eko Rudi Sudarto, S.I.K., M.Si., mengatakan bahwa program pengabdian masyarakat ini bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter calon perwira Polri.

“Pengabdian Masyarakat tahun ini, Mahasiswa S1 STIK Angkatan 83/WPS diberangkatkan ke Aceh untuk dua tujuan penting. Pertama, menjalankan misi kemanusiaan di wilayah bencana. Kedua, sebagai ruang pembentukan watak dan kepekaan sosial bagi para calon pemimpin Polri,” ujar Eko Rudi Sudarto dalam keterangan tertulisnya, Kamis (13/2/2026).
Menurut dia, kepemimpinan di tubuh Polri tidak hanya dibangun melalui pendidikan akademik dan latihan taktis, tetapi juga melalui pengalaman langsung bersentuhan dengan masyarakat yang menghadapi kesulitan nyata. Dalam konteks itu, Aceh menjadi ruang belajar sekaligus ladang pengabdian.
Pembangunan 12 sumur bor tersebut terlaksana dengan dukungan penuh jajaran Polres setempat di bawah koordinasi Polda Aceh. Sinergi ini mempercepat proses identifikasi titik-titik prioritas serta memastikan sumur yang dibangun benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat terdampak.

Di sejumlah lokasi, warga menyambut kehadiran sumur bor dengan antusias. Air yang sebelumnya harus didatangkan dari jarak jauh kini dapat diakses lebih mudah. Sebagian warga bahkan menyebut program ini sebagai “hadiah Ramadan” yang datang lebih awal.
Secara teknis, sumur bor dibangun dengan mempertimbangkan kondisi geologis masing-masing wilayah. Tim melakukan survei awal untuk memastikan ketersediaan sumber air tanah dan kelayakan distribusi. Dengan demikian, sumur yang dibangun tidak hanya berfungsi dalam jangka pendek, tetapi juga berkelanjutan.
Program ini sekaligus menegaskan pendekatan humanis yang terus digaungkan dalam transformasi Polri. Para mahasiswa STIK yang kelak akan menduduki posisi strategis di kepolisian diharapkan memiliki empati sosial yang kuat dan memahami secara langsung persoalan masyarakat di lapangan.
Menjelang Ramadan, ketika umat Muslim bersiap meningkatkan ibadah dan solidaritas sosial, 12 sumur bor itu menjadi simbol konkret kehadiran negara melalui tangan-tangan calon pemimpin kepolisian. Di tanah yang pernah diguncang bencana, air kembali mengalir—membawa harapan, kebersihan, dan keberkahan. (Yor)






