Ketua KT Pusuk Pujata-Egi Frisma Suryaji Raih Pin Emas Kapolri
Kapolri Pecahkan Rekor, 279 Hektare Bawang Putih Serentak
LOMBOK TIMUR, Matanews — Kepolisian Negara Republik Indonesia memperkuat perannya dalam agenda ketahanan pangan nasional. Pada Rabu, 19 Agustus 2026, Polri menggelar penanaman bawang putih secara serentak di 17 provinsi sekaligus melaksanakan panen raya bawang putih di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dan menjadi bagian dari upaya mempercepat terwujudnya swasembada bawang putih nasional. Di Sembalun, rangkaian kegiatan juga ditandai dengan ground breaking pembangunan Gudang Ketahanan Pangan Polri.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto, Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan serta Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman dan berbagai pemangku kepentingan terkait.
Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Ade Safri Simanjuntak yang di tunjuk sebagai Sekertaris Satgas Percepatan Swasembada Bawang Putih Nasional Polri T.A. 2026 mengatakan, rangkaian kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan konkret Polri terhadap program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan, khususnya komoditas bawang putih.
Menurut Ade Safri, gerakan penanaman secara serentak tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi komoditas pertanian. Program itu juga dimaksudkan membangun ekosistem ketahanan pangan yang melibatkan kepolisian, kelompok tani, petani, serta berbagai pemangku kepentingan di daerah.
“Polri berkomitmen mendukung program swasembada pangan, termasuk percepatan swasembada bawang putih nasional,” ucap Brigjen Pol Ade Safri menyampaikan yang di tegaskan Kapolri dalam sambutannya.

279,53 Hektare Ditanami Serentak
Skala gerakan penanaman bawang putih pada 19 Agustus 2026 tergolong besar. Penanaman dipimpin Kapolri dan berlangsung di wilayah hukum 14 Polda serta 59 Polres.
“Total luas lahan yang ditanami mencapai 279,53 hektare. Kegiatan tersebut melibatkan 110 kelompok tani dan 2.174 orang petani.” terangnya.
Dengan proyeksi produktivitas sekitar 10 ton per hektare, lahan tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar 2.795,3 ton bawang putih apabila produktivitas sesuai target.
“Angka tersebut menunjukkan bahwa program yang digerakkan Polri tidak berhenti pada seremoni penanaman. Pemerataan kegiatan hingga tingkat kewilayahan menjadi bagian dari strategi untuk membangun basis produksi bawang putih secara lebih luas.” jelasnya.
Gerakan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana institusi kepolisian mengambil posisi sebagai penggerak dan mitra dalam agenda ketahanan pangan, bukan semata sebagai institusi penegakan hukum.

Pecahkan Rekor Penanaman Bawang Putih
Momentum penanaman serentak tersebut semakin istimewa karena Kapolri menerima piagam penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia.
Penghargaan tersebut diberikan atas rekor “Penanaman Bawang Putih Secara Serentak di Lahan Terluas”, dengan cakupan 279,53 hektare di 59 Polres dan 14 Polda.
“Rekor itu menjadi penanda penting dalam pelaksanaan program percepatan swasembada bawang putih. Sebab, gerakan penanaman tidak hanya dilakukan dalam satu wilayah, melainkan secara serentak dengan melibatkan jaringan kepolisian di berbagai daerah.” ujarnya.
Bagi Polri, capaian tersebut juga menjadi simbol bahwa agenda ketahanan pangan dapat digerakkan melalui kolaborasi lintas sektor dan pendekatan berbasis kewilayahan.

Satgas Khusus Swasembada Bawang Putih
Keseriusan Polri dalam mendukung program tersebut diperkuat dengan diterbitkannya Surat Perintah Pembentukan Satgas Percepatan Swasembada Bawang Putih Nasional Polri T.A. 2026.
Dalam struktur satgas tersebut, Kakorbinmas Polri ditunjuk sebagai Kasatgas, sedangkan Wakabareskrim Polri dipercaya sebagai Wakasatgas. Adapun Dirtipideksus Bareskrim Polri Brigjen Pol Ade Safri Simanjuntak ditunjuk sebagai sekretaris.
“Pembentukan satgas menunjukkan bahwa percepatan swasembada bawang putih ditempatkan sebagai agenda yang membutuhkan koordinasi secara terstruktur.” tambahnya.
Kepolisian kemudian dapat mengonsolidasikan dukungan di tingkat pusat dan kewilayahan, termasuk dalam membangun kemitraan dengan kelompok tani dan memastikan program berjalan secara berkelanjutan.
“Dengan struktur tersebut, gerakan penanaman bawang putih tidak hanya diukur dari luas lahan yang ditanami. Keberlanjutan produksi, produktivitas, pendampingan petani, serta penguatan tata kelola ketahanan pangan menjadi bagian penting dari pekerjaan lanjutan.” tuturnya.

Egi Frisma Suryaji Raih Pin Emas Kapolri
Dalam kegiatan di Sembalun, Kapolri juga memberikan penghargaan berupa Pin Emas Kapolri kepada Egi Frisma Suryaji, S.IP., M.Sc., Ketua Kelompok Tani Pusuk Pujata.
“Penghargaan diberikan atas prestasi dan dedikasinya sebagai mitra Polri dalam mendukung program ketahanan pangan menuju Indonesia swasembada bawang putih.” kata Brigjen Pol Ade Safri.
Egi dinilai memiliki kontribusi nyata dalam mengembangkan budidaya bawang putih bersama Satgas Pangan Polri di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur.
“Kemitraan tersebut telah berjalan sejak awal 2025. Kelompok Tani Pusuk Pujata yang dipimpin Egi menjadi salah satu kelompok tani yang aktif mengembangkan budidaya bawang putih di kawasan Sembalun.” paparnya.
Bawang putih yang dikembangkan antara lain varietas Sangga Sembalun dan Lumbu Putih.
Dalam kurun waktu tersebut, penanaman telah dilakukan pada lahan seluas 948 hektare, dengan hasil panen yang disebut mencapai 18.960 ton.
Jika angka produksi tersebut dibandingkan dengan luasan lahan yang disebutkan, produktivitas rata-ratanya berada di kisaran 20 ton per hektare. Capaian tersebut menjadi salah satu alasan kontribusi kelompok tani tersebut memperoleh apresiasi dari Polri.

Sembalun Jadi Contoh Kemitraan Polri dan Petani
“Sembalun memiliki posisi penting dalam rangkaian program tersebut. Wilayah di Kabupaten Lombok Timur itu tidak hanya menjadi lokasi panen raya, tetapi juga menjadi salah satu contoh pengembangan bawang putih berbasis kemitraan antara kelompok tani dan Polri.” jelasnya.
Kehadiran Kapolri dalam kegiatan panen dan penanaman serentak mempertegas pesan bahwa ketahanan pangan membutuhkan kerja bersama.
“Polri melalui Satgas Pangan tidak hanya dituntut berperan dalam aspek pengawasan terhadap distribusi dan tata niaga pangan. Institusi tersebut juga mendorong produktivitas dari sisi hulu dengan memperkuat kemitraan bersama petani.” tegasnya.
“Dalam konteks bawang putih, penguatan produksi dalam negeri menjadi penting karena komoditas tersebut memiliki posisi strategis dalam kebutuhan konsumsi nasional.” sambungnya.
Karena itu, peningkatan luas tanam harus diikuti dengan peningkatan produktivitas, kualitas hasil panen, kepastian pasar, serta pengelolaan pascapanen.

Gudang Ketahanan Pangan Dibangun
Selain penanaman dan panen raya, agenda di Sembalun juga ditandai dengan ground breaking Gudang Ketahanan Pangan Polri.
Pembangunan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat infrastruktur pendukung program ketahanan pangan.
“Gudang memiliki arti penting dalam mata rantai pertanian karena produksi yang tinggi membutuhkan sistem penyimpanan dan pengelolaan pascapanen yang memadai.” tuturnya.
“Tanpa dukungan infrastruktur, hasil produksi petani berpotensi menghadapi persoalan penyimpanan, kualitas, distribusi, hingga fluktuasi harga.” tambahnya.
Karena itu, pembangunan Gudang Ketahanan Pangan Polri diharapkan dapat memperkuat ekosistem produksi bawang putih sekaligus mendukung kesinambungan program ketahanan pangan di wilayah tersebut.

Bukan Sekadar Tanam, Tapi Membangun Ekosistem
Pesan utama dari gerakan tersebut bukan sekadar memperbanyak lahan tanam. Tantangan berikutnya adalah memastikan agar gerakan yang telah dimulai dapat berkelanjutan.
“Target swasembada membutuhkan kesinambungan produksi. Artinya, keberhasilan penanaman pada satu musim harus diikuti dengan keberhasilan pada musim-musim berikutnya.” pesannya.
“Di titik inilah keberadaan Satgas Percepatan Swasembada Bawang Putih Nasional Polri menjadi penting.” sambungnya.
Satgas tersebut diharapkan mampu mengonsolidasikan berbagai potensi yang dimiliki Polri sekaligus memperkuat koordinasi dengan kelompok tani dan instansi terkait.
Program juga membutuhkan pendampingan yang konsisten agar petani memperoleh dukungan dalam hal budidaya, penggunaan varietas, peningkatan produktivitas, pengelolaan hasil panen, hingga pemasaran.

Dari 279 Hektare Menuju Target Nasional
Penanaman serentak seluas 279,53 hektare memang merupakan bagian dari agenda yang lebih besar.
Jika proyeksi produktivitas 10 ton per hektare tercapai, potensi produksi dari lahan yang ditanam serentak tersebut mencapai sekitar 2.795,3 ton.
Sementara pengalaman Kelompok Tani Pusuk Pujata di Sembalun menunjukkan potensi produktivitas yang lebih tinggi berdasarkan data produksi yang disampaikan, yakni 18.960 ton dari lahan 948 hektare.
Dua angka tersebut memberikan gambaran bahwa peningkatan produktivitas menjadi salah satu kunci dalam mengejar swasembada.
Semakin tinggi produktivitas lahan, semakin besar pula kontribusi produksi domestik terhadap kebutuhan nasional.
“Namun, keberhasilan program tetap membutuhkan indikator yang lebih luas: keberlanjutan lahan, produktivitas per hektare, kesejahteraan petani, efisiensi distribusi, stabilitas harga, serta kemampuan produksi dalam memenuhi kebutuhan nasional.” terangnya

Polri Tegaskan Komitmen
Melalui kegiatan tersebut, Polri ingin menunjukkan komitmennya terhadap agenda swasembada pangan.
Kapolri menegaskan dukungan terhadap program swasembada pangan, termasuk percepatan swasembada bawang putih nasional.
Di sisi lain, pemberian Pin Emas kepada Egi Frisma Suryaji menjadi bentuk penghargaan terhadap petani yang dinilai konsisten membangun kemitraan dengan Polri.
Program yang dimulai sejak awal 2025 di Sembalun tersebut kini berkembang menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas.
Dari Sembalun, penanaman diperluas secara serentak ke puluhan wilayah hukum kepolisian. Dari satu kelompok tani, gerakan berkembang dengan melibatkan 110 kelompok tani dan 2.174 petani.
Dan dari 279,53 hektare lahan yang ditanam serentak, Polri menargetkan agar gerakan tersebut menjadi salah satu fondasi percepatan swasembada bawang putih nasional.
“Bagi Polri, rekor penanaman bukanlah garis akhir. Rekor tersebut justru menjadi titik awal untuk membuktikan bahwa gerakan ketahanan pangan dapat diterjemahkan menjadi produksi nyata, kemitraan berkelanjutan, dan peningkatan kesejahteraan petani.” tutupnya.
Sembalun pun menjadi salah satu panggung penting dari agenda besar tersebut: menjadikan bawang putih bukan sekadar komoditas pertanian, tetapi bagian dari strategi ketahanan pangan dan kemandirian pangan nasional. (Wly)





