Korem 051 TNI Turun Tangan, Panti Asuhan Berubah
Gotong Royong Hebat, Panti Asuhan Disulap
Depok, Matanews — Semangat gotong royong kembali menemukan relevansinya di tengah kehidupan perkotaan yang kian individualistis. Hal itu tergambar dalam kegiatan renovasi Panti Asuhan Karena Do’a di kawasan Sawangan, Kota Depok, yang melibatkan prajurit Korem 051/Wijayakarta bersama warga setempat pada Selasa, 14 April 2026.
Sejak pagi hari, puluhan prajurit berseragam loreng tampak menyatu dengan masyarakat. Tanpa sekat, mereka membaur dalam pekerjaan fisik yang beragam mulai dari membersihkan area panti, memperbaiki bagian bangunan yang rusak, hingga menata ulang lingkungan sekitar agar lebih tertib dan layak huni.

Kegiatan ini bukan sekadar kerja bakti biasa. Ia menjadi representasi konkret dari konsep kemanunggalan TNI dengan rakyat, sebuah doktrin lama yang terus dihidupkan dalam praktik keseharian. Di tengah ritme kerja yang padat, prajurit
tetap menyempatkan diri terlibat langsung dalam kegiatan sosial yang bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat.

Menurut sejumlah warga, kehadiran TNI dalam kegiatan tersebut memberi dorongan moral tersendiri. “Kalau dikerjakan bersama seperti ini, terasa lebih ringan. Apalagi ada bapak-bapak tentara yang ikut turun langsung,” ujar salah seorang warga yang turut ambil bagian.
Renovasi yang dilakukan mencakup perbaikan struktur bangunan yang mulai mengalami kerusakan, pengecatan ulang dinding, serta penataan fasilitas pendukung bagi anak-anak panti. Lingkungan yang sebelumnya terlihat kusam perlahan berubah menjadi lebih bersih dan nyaman.

Bagi pengelola panti, kegiatan ini memiliki arti lebih dari sekadar bantuan fisik. Renovasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup anak-anak yang tinggal di sana. Dengan fasilitas yang lebih layak, mereka diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang lebih sehat dan aman.
Selain itu, kegiatan gotong royong ini juga menjadi ruang interaksi sosial yang mempererat hubungan antara aparat dan masyarakat. Dalam suasana kerja bersama, batas-batas formal mencair, digantikan oleh rasa kebersamaan dan kepedulian yang tulus.
Kegiatan semacam ini, di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat perkotaan, menjadi pengingat bahwa solidaritas sosial masih hidup. Gotong royong bukan sekadar warisan budaya, melainkan praktik nyata yang terus relevan untuk menjawab kebutuhan bersama.

Melalui renovasi Panti Asuhan Karena Do’a ini, harapan pun tumbuh bahwa kolaborasi antara aparat dan warga dapat terus terjalin, tidak hanya dalam situasi darurat, tetapi juga dalam upaya membangun kesejahteraan sosial secara berkelanjutan. (Wly)





