Polisi Watch Soroti Duet Suyudi-Wahyu dan 7 Agenda Polri Benahi Kepolisian
Jejak Karir Suyudi dan Wahyu
JAKARTA, Matanews — Ketua Umum Polisi Watch, Weliari, S.H., yang akrab disapa Willy, menyambut kepemimpinan baru Polri di bawah Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri dan Komjen Polisi Wahyu Hadiningrat sebagai Wakapolri.
Willy menilai pergantian pucuk pimpinan Korps Bhayangkara merupakan momentum penting untuk melakukan konsolidasi sekaligus membenahi sejumlah persoalan yang masih menjadi perhatian masyarakat.
Suyudi dan Wahyu resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026. Suyudi menggantikan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, sedangkan Wahyu menggantikan Komjen Polisi Dedi Prasetyo sebagai Wakapolri. Pelantikan tersebut berdasarkan Keppres Nomor 96/POLRI Tahun 2026 dan Keppres Nomor 97/POLRI Tahun 2026.
Menurut Willy, kombinasi pengalaman Suyudi di bidang reserse, kewilayahan dan pemberantasan narkotika dengan pengalaman Wahyu dalam reserse, intelijen, Bareskrim serta perencanaan organisasi dapat menjadi modal untuk menjalankan agenda pembenahan Polri.
“Polisi Watch mengucapkan selamat kepada Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri dan Komjen Polisi Wahyu Hadiningrat sebagai Wakapolri. Kepemimpinan baru ini membawa amanah besar untuk menjawab berbagai persoalan kepolisian dan meningkatkan kepercayaan masyarakat,” ujar Willy.
Willy mengatakan pengawasan masyarakat tetap diperlukan agar kebijakan yang dicanangkan tidak berhenti pada slogan, tetapi diterjemahkan menjadi pelayanan dan penegakan hukum yang dapat dirasakan masyarakat.
“Polri membutuhkan kepemimpinan yang tegas, terbuka terhadap kritik, profesional dalam penegakan hukum dan mampu memastikan pelayanan publik berjalan bersih serta akuntabel,” katanya.

Tujuh Agenda Menjadi Perhatian
Willy juga menyoroti tujuh agenda prioritas yang tercantum dalam materi visual yang disampaikan Polisi Watch dan dikaitkan dengan arah program kepemimpinan baru Polri.
Ketujuh agenda tersebut meliputi:
Pertama, kelembagaan kuat dan Polsek tangguh.
Penguatan struktur hingga tingkat Polsek dinilai penting karena satuan tersebut merupakan bagian kepolisian yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Kedua, SDM unggul dan rekrutmen meritokratis.
Pembenahan sumber daya manusia menjadi bagian penting untuk memastikan personel ditempatkan berdasarkan kompetensi, integritas dan kebutuhan organisasi.
Ketiga, pelayanan publik digital dan bebas pungli.
Digitalisasi pelayanan diharapkan dapat memangkas birokrasi yang tidak perlu, meningkatkan transparansi dan mempersempit ruang terjadinya pungutan liar.
Keempat, penegakan hukum yang adil dan berbasis sains.
Menurut Willy, penegakan hukum harus bertumpu pada bukti, prosedur dan profesionalisme penyidik. Prinsip scientific crime investigation menjadi penting untuk memastikan perkara ditangani secara objektif.
Kelima, pengawasan kuat dan pelapor terlindungi.
Mekanisme pengawasan internal dan eksternal perlu diperkuat. Masyarakat yang menyampaikan laporan juga harus mendapatkan perlindungan sesuai ketentuan.
Keenam, anggaran akuntabel dan berdampak nyata.
Pengelolaan anggaran Polri perlu dapat dipertanggungjawabkan serta diarahkan kepada kebutuhan yang benar-benar menunjang pelayanan dan keamanan masyarakat.
Ketujuh, pemberantasan kejahatan yang meresahkan.
Pemberantasan narkotika, judi daring, penyelundupan dan berbagai bentuk kejahatan yang berdampak langsung terhadap masyarakat menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Tujuh poin tersebut merupakan materi yang tercantum program Kapolri. Adapun secara resmi, Suyudi setelah dilantik menyebut fokus awalnya mencakup konsolidasi internal, evaluasi program sebelumnya, peningkatan pelayanan publik, penegakan hukum yang adil dan memperkuat kedekatan polisi dengan masyarakat. Ia juga menyebut narkotika, penyelundupan dan judi daring sebagai persoalan yang menjadi perhatian Presiden.
Suyudi, Dari Reserse hingga Puncak Polri
Suyudi Ario Seto lahir pada 14 Juli 1973 dan merupakan lulusan Akpol 1994. Rekam kariernya banyak bersentuhan dengan fungsi reserse.
Pada awal pengabdian, ia pernah bertugas sebagai Pama Pus Brimob dan kemudian menjalani berbagai penugasan di lingkungan Polda Metro Jaya. Ia antara lain pernah menjadi Kapolsek Metro Pasar Minggu, Kapolsek Metro Tanah Abang dan Kapolsek Metro Penjaringan.
Karier kewilayahannya kemudian berlanjut sebagai Kapolres Majalengka pada 2014–2015, Kapolres Bogor pada 2015–2016, serta Kapolresta Bogor pada 2016–2017.
Suyudi kemudian masuk ke jajaran Bareskrim Polri. Ia pernah dipercaya sebagai Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus dan Wakil Direktur Tindak Pidana Siber. Pada 2019, ia kembali ke Polda Metro Jaya sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum.
Pada 2023, Suyudi dipercaya menjadi Wakapolda Metro Jaya. Setahun kemudian ia menjabat Kapolda Banten.
Puncak perjalanan sebelum menjadi Kapolri adalah ketika Presiden Prabowo mengangkatnya sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional pada 25 Agustus 2025.
Pengungkapan Dua Ton Sabu
Salah satu catatan menonjol dalam masa Suyudi memimpin BNN adalah pengungkapan jaringan narkotika internasional yang berkaitan dengan penyelundupan dua ton sabu.
BNN bersama sejumlah unsur Indonesia dan mitra di Kamboja menangkap Dewi Astutik alias PA di Sihanoukville, Kamboja, pada Desember 2025. Narkotika tersebut diperkirakan bernilai sekitar Rp5 triliun.
Dalam rekam penghargaan, Suyudi juga tercatat sebagai penerima Bintang Bhayangkara Nararya.
Dari sisi pendidikan, Suyudi menyelesaikan PTIK pada 2003 dan Sespimti pada 2018. Ia juga memiliki gelar S.I.K., Sarjana Hukum dan Magister Sains. Pada 31 Januari 2026, ia memperoleh gelar Doktor Honoris Causa bidang Ilmu Hukum dari Universitas Tarumanegara.
Presiden kemudian menaikkan pangkat Suyudi dari Komjen menjadi Jenderal Polisi ketika melantiknya sebagai Kapolri.
Wahyu Hadiningrat, Pengalaman Reserse hingga Perencanaan
Sementara itu, Wahyu Hadiningrat lahir di Bandung pada 4 Juni 1970 dan merupakan lulusan Akpol 1992.
Kariernya dimulai di Polda Jawa Barat. Ia pernah menjadi Pama Polda Jabar pada 1993, Wakapolsekta Cirebon Selatan pada 1994, dan Kapolsek Soreang Polres Bandung pada 1995.
Wahyu kemudian dipercaya menjadi Kasat Serse Polres Bandung pada 1997 dan Kasat Serse Polresta Bogor pada 1998. Pengalamannya di bidang reserse berlanjut dengan sejumlah jabatan di Polda Jawa Barat, termasuk Kasat I Ditreskrim.
Ia juga pernah bertugas sebagai Kasatgaswil Jawa Barat Densus 88 Antiteror Polri. Salah satu penugasan yang tercatat adalah keterlibatannya dalam penanganan Bom Bali II pada 2005. Menurut RRI, penugasan tersebut berujung pada kenaikan pangkat luar biasa pada tahun yang sama.
Karier kewilayahannya berlanjut sebagai Kapolres Metro Bekasi pada 2011 dan Kapolres Metro Jakarta Selatan pada 2012.
Setelah itu, Wahyu memasuki sejumlah posisi strategis di tingkat Mabes Polri dan lembaga lain. Ia pernah menjadi Analis Kebijakan Madya Bidang Pidum Bareskrim, Wadirtipidsiber Bareskrim, serta Direktur Respon Ancaman Deputi Bidang Intelijen Siber BIN.
Pada 2018, ia dipercaya menjadi Wakapolda Metro Jaya. Dua tahun kemudian, ia menduduki posisi Wakabareskrim Polri.
Pengalamannya kemudian bergeser ke bidang manajemen organisasi. Pada 2021, ia dipercaya sebagai Asrena Kapolri. Setelah restrukturisasi organisasi Polri, jabatan tersebut berubah menjadi Astamarena. Sejak September 2024, Wahyu menjabat Asisten Utama Kapolri Bidang Perencanaan Umum dan Anggaran.
Pengalaman panjang tersebut membuat Wahyu memiliki rekam penugasan dari fungsi reserse, pemberantasan terorisme, kewilayahan, siber, intelijen hingga perencanaan dan penganggaran.

Polisi Watch: Jangan Berhenti di Pergantian Jabatan
Bagi Polisi Watch, pergantian Kapolri dan Wakapolri bukan sekadar perubahan struktur organisasi.
Willy menilai ukuran kepemimpinan baru akan terlihat dari kemampuan menjawab persoalan konkret di lapangan.
“Pergantian pimpinan harus diikuti perubahan yang dirasakan masyarakat. Jangan berhenti pada pergantian jabatan. Pelayanan harus semakin cepat, penegakan hukum harus semakin profesional, pengawasan harus semakin kuat dan anggota yang bekerja baik harus mendapatkan ruang untuk berkembang,” ujar Willy.
Ia juga mendorong agar Polri memberikan perhatian terhadap kualitas penyidikan, pengawasan personel, perlindungan masyarakat, pemberantasan kejahatan yang meresahkan serta transparansi pelayanan publik.
Suyudi sendiri setelah dilantik menyatakan akan melakukan konsolidasi internal dan pemetaan persoalan di tubuh Polri. Program yang masih baik akan dilanjutkan, sedangkan bagian yang membutuhkan perbaikan akan dievaluasi. Ia juga membawa gagasan “Polisi Bersama Masyarakat” sebagai bagian dari program kerjanya.
Dengan demikian, tujuh agenda yang disoroti Polisi Watch memiliki irisan dengan sejumlah fokus awal yang disampaikan Suyudi setelah pelantikan, terutama konsolidasi internal, pelayanan publik, penegakan hukum dan kedekatan dengan masyarakat.
Willy menegaskan Polisi Watch akan tetap menjalankan fungsi pengawasan dengan mengedepankan data, fakta dan kepentingan publik.
“Polisi Watch siap menjadi mitra kritis Polri. Kami akan mendukung setiap kebijakan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat, tetapi tetap akan mengingatkan apabila ada hal yang perlu diperbaiki,” tegas Willy.
Ia berharap Suyudi dan Wahyu mampu membangun koordinasi yang kuat di tingkat pusat sekaligus memastikan kebijakan tersebut diterjemahkan secara konsisten hingga jajaran kewilayahan.
“Masyarakat membutuhkan Polri yang hadir, profesional, bersih, cepat merespons dan adil. Itu yang harus menjadi pekerjaan bersama kepemimpinan baru,” pungkasnya. (Red)





