Pengusaha Tenaga Listrik: Ketahanan Energi Dukung Kemandirian Pangan

JAKARTA, Matanews – Saat ini, energi air (hidropower) masih menjadi kontributor terbesar dalam bauran energi terbarukan di Indonesia.
Melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), energi potensial dan kinetik dari aliran air diubah menjadi listrik yang bersih, terbarukan, dan efisien.
Dengan potensi mencapai sekitar 76,09 GW dan kapasitas terpasang sekitar 19.385 MW, pengembangan PLTA dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) menjadi prioritas dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 sekaligus memperkuat kemandirian energi, khususnya di wilayah terpencil.
“Saat ini, dua proyek yakni, PLTA Cibuni berkapasitas 99 MW di Sukabumi dan Cianjur dan PLTA Cimandiri kapasitas 75 MW di Sukabumi, Jawa Barat, tengah dirampungkan oleh PT Berkat Cawan Energi.
Proyek ini diharapkan dapat memperkuat pasokan listrik nasional sekaligus menjadi bagian penting dalam akselerasi transisi energi bersih di Indonesia,” kata Albert Junior,
Owner PT Berkat Cawan Group, dalam keterangan persnya, di Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Dari sisi perizinan, sudah rampung dan tahun ini masuk tahap konstruksi.
Menurutnya, sebagai wilayah yang dikelilingi air, sangat tepat bila Indonesia mampu memanfaatkannya menjadi energi listrik. Seperti PLTA di Sukabumi menjadi penyuplai listrik di Jawa Barat.
Dirinya berkeyakinan, jika potensi energi air dimanfaatkan optimal, Indonesia berpeluang besar mencapai kemandirian energi tanpa harus mengorbankan lahan pertanian maupun perkebunan.
Ketahanan pangan
Lebih jauh Albert mengatakan, ketahanan energi erat kaitannya dengan ketahanan pangan. Sebab, pengelolaan sumber daya air berguna juga untuk irigasi dan penyediaan air bersih.

“Ada tiga manfaat utama yang bisa kita peroleh, yakni energi listrik, dukungan untuk pertanian, dan pengelolaan air bersih. Bahkan kualitas airnya pun bisa lebih terjamin,” tuturnya.
Baginya, sistem pengelolaan air menjadi faktor kunci dalam mendukung produktivitas pertanian.
Apabila pasokan energi terganggu, terutama yang masih bergantung pada batu bara, maka distribusi listrik akan terdampak,
Yang pada akhirnya mengganggu seluruh rantai produksi pangan, mulai dari pengairan hingga pengolahan hasil pertanian.
Dia menambahkan, jika kita ingin memperkuat ketahanan pangan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membenahi infrastruktur energi, khususnya listrik.
Terpenting bagaimana kita menciptakan energi listrik yang benar-benar berasal dari energi baru terbarukan,
Dengan memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah seperti air. Indonesia memiliki banyak sungai, sehingga tidak harus selalu bergantung pada sumber energi lain,” jelasnya.
Dirinya juga menyoroti tingginya harga energi dan mineral yang dipengaruhi oleh masih dominannya penggunaan energi fosil,
Seperti batu bara dan solar. Kondisi ini berdampak pada biaya produksi listrik, termasuk yang dikelola oleh PLN, sehingga harga jual listrik menjadi relatif tinggi.
“Perlu transformasi dengan menjadikan energi air menjadi solusi strategis. Ia mencontohkan proyek yang tengah dikembangkan di Sukabumi sebagai upaya nyata menggantikan ketergantungan terhadap batu bara dengan energi terbarukan,” imbuhnya.
Diakuinya, penggunaan energi fosil di wilayah seperti Jawa dan Bali masih sangat besar.
Padahal, cadangan batu bara semakin menipis, sementara air merupakan sumber daya yang tidak akan habis. Selain itu, biaya produksi dan distribusi batu bara juga semakin meningkat.
“Target pemerintah ke depan seharusnya difokuskan pada optimalisasi sumber daya yang sudah ada, khususnya dengan mengalihkan ketergantungan energi fosil menuju energi air.
Selama ini air baru dimanfaatkan sebatas untuk irigasi, padahal jika dikelola secara terintegrasi dengan pembangkit listrik,
manfaatnya akan jauh lebih besar bagi sektor pertanian dan penyediaan air bersih,” yakinnya.
Dia memprediksi, tanpa langkah konkrit, dalam lima tahun ke depan, risiko krisis energi dapat terjadi akibat menipisnya cadangan energi fosil.
Ia pun mengajak semua pihak untuk segera mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan memaksimalkan potensi energi air yang melimpah di Indonesia.
Albert berkomitmen mengembangkan investasi energi air dengan kapasitas mencapai 250 megawatt di Sukabumi.
Proyek serupa juga akan dibuat di Gorontalo dengan melibatkan masyarakat setempat serta memanfaatkan lahan yang dimilikinya.
Albert berharap pemerintahan Prabowo Subianto dapat memberi dukungan penuh terhadap program pengembangan energi terbarukan,
Sekaligus memastikan tidak adanya praktik-praktik yang merusak ekosistem energi nasional. (Rdf)



