Produksi Garam Nasional 2026 Diprediksi Bertahan di Level Rendah
Produksi Garam 2026 Masih Mandek
JAKARTA, Matanews — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memprediksi produksi garam nasional pada 2026 masih akan bertahan di kisaran 1 juta ton. Perkiraan tersebut didasarkan pada kondisi cuaca yang diproyeksikan tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, terutama tingginya potensi curah hujan.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Koswara mengatakan, cuaca menjadi faktor utama yang memengaruhi produktivitas garam nasional. Menurut dia, pada 2026 intensitas hujan diperkirakan masih relatif tinggi sehingga membatasi proses pembentukan kristal garam di tambak.
“Kurang lebih sama perkiraannya, karena suasananya juga mirip-mirip. Tahun 2026 juga diprediksi hujan,” ujar Koswara saat ditemui di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
KKP mencatat produksi garam nasional sepanjang 2025, baik yang dihasilkan petambak rakyat maupun pelaku usaha, hanya mencapai sekitar 1 juta ton. Angka tersebut turun hingga 50 persen dibandingkan produksi 2024 akibat tingginya curah hujan yang menghambat masa panen.

Selain faktor cuaca, KKP menilai kualitas produksi garam nasional juga masih perlu ditingkatkan. Untuk itu, kementerian menjalankan program sertifikasi cara produksi garam bahan baku agar sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).
Koswara mengatakan sertifikasi dilakukan melalui bimbingan teknis dan pelatihan bagi petambak garam, sehingga proses produksi dapat lebih terstandarisasi.
“SNI masih dilakukan, karena produksinya harus terstandardisasi. Dari tahun kemarin-kemarin juga sudah ada yang disertifikasi setelah dilatih,” katanya.
Sebelumnya, Direktur Sumber Daya Kelautan Ditjen Pengelolaan Kelautan KKP Frista Yorhanita menyatakan sertifikasi menjadi langkah penting untuk menyelaraskan praktik pergaraman rakyat yang selama ini masih beragam. Produksi garam rakyat umumnya dilakukan secara manual dan individual, sehingga mutu garam yang dihasilkan bervariasi, yang dikenal dengan klasifikasi K1, K2, dan K3.
Hingga kini, Indonesia masih bergantung pada impor garam untuk memenuhi kebutuhan nasional. Produksi garam dalam negeri rata-rata hanya mencapai 1 hingga 2 juta ton per tahun, sementara kebutuhan nasional berada di kisaran 4,5 hingga 5 juta ton.
Kekurangan pasokan sekitar 2,5 hingga 3 juta ton tersebut ditutup melalui impor, terutama untuk kebutuhan industri yang mensyaratkan garam berkualitas tinggi dan berstandar khusus. (Int)






