Raja LAK Galuh Pakuan Peringatkan! Jangan Intimidasi Atlet dengan Anggaran!
Elita Disentil: Diduga Intimidasi Pengurus Cabor
SUBANG, Matanews — Menjelang pelaksanaan Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa (Musorkablub) KONI Subang pada 29 April 2026, dinamika internal organisasi olahraga di daerah itu kian memanas. Sejumlah pihak menyoroti dugaan intervensi politik yang dinilai berpotensi merusak independensi pembinaan atlet.
Sorotan tajam datang dari Raja Lembaga Adat Karatwan Galuh Pakuan, Rahyang Mandalajati Evi Silviadi Sangga Buana, yang secara terbuka mengecam praktik intimidasi terhadap pengurus cabang olahraga (cabor). Ia menilai, tekanan yang dikaitkan dengan ancaman anggaran merupakan bentuk pelanggaran etika yang serius dalam dunia olahraga.
Intervensi Dinilai Cedera Sportivitas
Dalam pernyataannya, Evi Silviadi menyoroti dugaan keterlibatan anggota DPR RI, Elita Budiati, yang disebut-sebut melakukan tekanan terhadap sejumlah pihak menjelang Musorkablub.
Menurut dia, tindakan tersebut tidak hanya melampaui kewenangan, tetapi juga berpotensi merusak tatanan organisasi olahraga yang seharusnya menjunjung tinggi prinsip sportivitas dan netralitas.
“Ancaman tidak memberikan anggaran kepada cabor adalah tindakan yang tidak etis. Itu mencederai semangat olahraga,” ujar Evi dalam keterangannya, Selasa (21/4/2026).

Pertanyakan Kapasitas dan Kewenangan
Evi juga mempertanyakan kapasitas Elita dalam mencampuri urusan internal KONI. Ia menegaskan bahwa posisi Elita di Komisi I DPR RI tidak berkaitan langsung dengan bidang olahraga.
“Memangnya siapa dia? Mengancam tidak memberi anggaran, memang dia Bupati Subang? Bahkan jika dia kepala daerah sekalipun, tidak boleh menjadikan anggaran sebagai alat tekanan,” ujarnya.
Ia menambahkan, anggaran olahraga merupakan hak publik yang harus digunakan untuk kepentingan pembinaan atlet, bukan sebagai instrumen politik.
“Anggaran itu milik rakyat. Atlet, pengurus cabor, semua adalah bagian dari rakyat yang harus dilindungi,” kata dia.
Kritik: Dinilai Sering Bikin Gaduh
Dalam pernyataan yang lebih tajam, Evi menyebut bahwa pihak yang bersangkutan kerap menciptakan kegaduhan di Kabupaten Subang, bahkan dinilai seolah-olah mengatur kebijakan pemerintah daerah tanpa memiliki kewenangan formal.
“Dia bukan siapa-siapa dalam struktur pemerintahan daerah, tetapi seolah mengatur semua kebijakan. Ini yang membuat suasana menjadi tidak kondusif,” ujarnya.
Menurut Evi, praktik seperti itu berpotensi mengganggu stabilitas organisasi serta merusak iklim pembinaan olahraga di daerah.

Galuh Pakuan Siap Pasang Badan
Sebagai bentuk komitmen terhadap keberlangsungan pembinaan atlet, Evi menyatakan Lembaga Adat Karatwan Galuh Pakuan siap turun tangan apabila terjadi hambatan pendanaan akibat tekanan politik.
Ia bahkan menegaskan kesiapan lembaganya untuk membantu pembiayaan kebutuhan atlet demi menjaga prestasi olahraga Subang.
“Kami siap membiayai kebutuhan atlet jika ada tekanan yang tidak sehat. Atlet tidak boleh menjadi korban kepentingan politik,” ujarnya.
Seruan Jaga Netralitas Musorkablub
Evi berharap seluruh pihak dapat menjaga kondusivitas menjelang Musorkablub KONI Subang. Ia menekankan bahwa proses pemilihan kepengurusan harus berjalan sesuai mekanisme organisasi tanpa intervensi eksternal.
Menurut dia, Musorkablub merupakan momentum penting untuk menentukan arah pembinaan olahraga di Subang ke depan, sehingga harus dijaga dari kepentingan di luar organisasi.
“Biarkan insan olahraga menentukan pilihannya secara bebas dan bertanggung jawab,” kata dia.
Polisi dan Publik Diminta Awasi
Di tengah memanasnya situasi, masyarakat dan pemangku kepentingan diharapkan turut mengawasi jalannya proses Musorkablub agar tetap transparan dan akuntabel.
Evi menegaskan bahwa menjaga marwah olahraga sama pentingnya dengan menjaga kepercayaan publik terhadap institusi yang menaunginya.
“Olahraga harus bersih dari tekanan. Kalau ini dibiarkan, yang dirugikan bukan hanya atlet, tapi masa depan olahraga itu sendiri,” ujarnya. (Red)

