Wamen PPN Optimistis Kakao Jadi Komoditas Strategis Penopang Kesejahteraan Petani

Bappenas mendorong pembentukan Satuan Tugas (Satgas) pengembangan kakao.

Kakao Jadi Komoditas Strategis Penopang Kesejahteraan Petani

JAKARTA, Matanews — Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Febrian Alphyanto Ruddyard menyatakan optimisme bahwa kakao dapat berkembang menjadi komoditas strategis nasional yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat perekonomian industri dalam negeri.

Hal tersebut disampaikan Febrian dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pengembangan Kakao yang digelar di Gedung Bappenas, Jakarta, Selasa (27/1/2026), sebagaimana dikutip dari keterangan resmi.

“Saya optimis dengan adanya koordinasi yang erat dan komitmen bersama, kakao bisa menjadi komoditas strategis yang meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat perekonomian industri, dan berkontribusi nyata dalam pembangunan nasional,” ujar Febrian.

Komoditas
Bappenas mendorong pembentukan Satuan Tugas (Satgas) pengembangan kakao.

Dalam rapat tersebut, Febrian menekankan pentingnya sinergi yang kuat antara perencanaan dan implementasi di lapangan guna mempercepat pengembangan sektor kakao nasional. Menurut dia, tanpa keterpaduan lintas sektor, potensi besar kakao Indonesia sulit diwujudkan secara optimal.

Febrian menilai kakao dan kopi tidak semata-mata sebagai komoditas pertanian, melainkan memiliki keterkaitan langsung dengan peningkatan kesejahteraan petani, pembangunan wilayah, serta ketahanan ekonomi nasional dalam jangka panjang.

Rapat koordinasi itu juga menyoroti pentingnya pengembangan kakao secara lintas sektor melalui kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, badan usaha milik negara, lembaga riset, serta mitra industri. Kolaborasi tersebut dinilai krusial untuk menghindari ego sektoral yang selama ini kerap menghambat kemajuan industri kakao.

Sebagai langkah konkret, Bappenas mendorong pembentukan Satuan Tugas (Satgas) pengembangan kakao. Satgas ini diharapkan dapat mendukung pengembangan industri kakao, terutama dalam mendorong hilirisasi agar nilai tambah produk dapat dinikmati di dalam negeri.

PPN
kakao dapat berkembang menjadi komoditas strategis nasional yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani

Pembahasan rapat juga mencakup penyusunan rencana, model baru, dan strategi pengembangan kakao yang akan diterapkan di daerah percontohan. Pengembangan industri kakao direncanakan dimulai di tiga wilayah, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Jawa Timur, yang diharapkan dapat menjadi model praktik baik untuk direplikasi di daerah lain.

“Dalam pengembangan kakao, diperlukan konsistensi dalam implementasi, mulai dari penggunaan benih unggul bersertifikat, penerapan sistem poliklonal dalam peremajaan dan perluasan tanaman, hingga penerapan Good Agricultural Practices dan Good Handling Practices,” kata Febrian.

Petani Kakao
Diskusi juga menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat, khususnya petani

Diskusi juga menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat, khususnya petani, dalam menyukseskan program pengembangan kakao. Pelatihan dan sosialisasi dinilai menjadi elemen mendasar agar program dapat terinternalisasi dan berkelanjutan.

“Pengalaman pengembangan industri kakao sebelumnya menunjukkan bahwa keberhasilan sangat bergantung pada komitmen nyata masyarakat. Karena itu, pelibatan petani menjadi kunci utama,” ujar Febrian.(Int)

Berita Terkini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *